Music


Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

16 Januari 2009

JARING_JARING KEHIDUPAN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Capra membuka pembahasannya dengan sebuah pengertian ilmiah baru mengenai kehidupan; mulai dari organisme, sistem sosial, politik dan ekonomi, pengertian itu berdasarkan pada suatu presepsi baru tentang realitas yang memiliki implikasi mendalam, bukan hanya pada ilmu fisafat, tetapi juga menyentuh ruang yang lebih luas. Konsep baru dalam fisika telah membawah perubahan yang sangat mendasar bagi pandangan dunia kita dari konsep Descrates dan Newton yang mekanistis kepada pandangan yang holistik dan ekologis, sebuah pandangan yang menurut Capra memiliki berbagai kesamaan dengan misitisme dari semua tradisi disepanjang jaman.
Setelah duaribu tahun yang tercatat dalam penanggalan, dunia ini telah mengalami perubahan besar disegala bidang kemajuan teknologi secara signifikan telah menjadikan dunia terhubung; dalam suatu jaringan informasi yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan orang dibelahan dunia yang lain dalam hitungan detik, memberikan pemahaman bahwa bumi hanyalah setitik air ditengah lautan tata surya yang maha luas, memungkinkan orang tahu bahwa didalam segenggam tanah dihutan tropis Amazon terkandung beraneka ragam spesies bakteri yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada populasi seluruh umat manusia didunia ini. Pandangan baru tentang dunia tersebut tidak begitu saja dapat diterima oleh para ilmuwan pada permulaan awal abad ini. Dalam pergulatan untuk memahami relitas baru ini, para ilmuwan akhirnya menyadari bahwa konsep dasar, bahasa maupun keseluruhan cara fakir yang mereka miliki belum memadai guna menjelaskan fenomena atomic. Problem yang mereka pikul bukan sekadar problem intelektual, melainkan lebih banyak tekanan emosional yang disebut dengan “krisis eksistensial”
Dinamika yang mendasari problem-problem utama jaman kita adalah Aids, kriminalitas, perlombaan senjata nuklir, polusi, inflasi, krisis energi, krisis presepsi. Semuanya merupakan residu peradaban yang tidak tereduksi oleh sistem yang kita kenal dengan moderenisme. Dan sekarang kita sudah sampai pada puncak perubahan yang dramatis dan penuh resiko.
Dalam karyanya yang berjudul: The Turning Point yang diterjemahkan dengan “Titik Balik Peradaban” inilah, Pritjof Capra menghadirkan visi baru tersebut. Sebuah paradigma baru; perubahan yang mendasar pada pemikmiran, presepsi, dan nilai yang kita miliki, semua yang dituangkan oleh Capra bertujuan untuk menyediakan kerangka kerja konseptual koheren yang akan membantu mereka mengenali komunalitas/keseragaman tujuan yang mereka miliki dan pada akhirnya akan melahirkan sebuah tranformasi dimensi – dimensi tanpa awalan, titik balik bagi dunia sebagai sebuah keseluruhan.
Pembahasan Capra tentang paradigma ini, terbagi menjadi empat bagian, yaitu: Bagian pertama : Pengenalan terhadap tema-tema pokok buku ini diantaranya adalah mengenai fenomena krisis dan bagaimana memahami krisis melalui pendekatan konsep para ahli. Bagian kedua : Menguraikan perkembangan histories pandangan dunia Cartesian-Newtonian serta perubahan dramatis konsep-konsep dasar mereka dalam fisika moderen. Bagian ketiga : Menguraikan pengaruh pokok pemikiran Cartesian-Newtonian dalam biologi, kedokteran, psikologi dan ekonomi serta mengajukan berbagai kritik terhadap paradigma mekanistik yang ada pada bidang-bidang tersebut. Bagian keempat: Pembahasan mendetail seputar visi realitas baru. Visi baru ini mencakup pandangan sistem-sistem yang sedang bangkit tentang kehidupan, jiwa, kesadaran, evolusi; pendekatan holistic yang paling tekenal dalam kesehatan dan pengobatan; pemaduan terhadap pendekatan timur dan barat terhadap psikologi dan psikoterapi; sebuah kerangka kerja konseptual baru dalam ekonomi dan teknologi serta prespektif ekologis dan feminin dan bersifat spiritual dalam hakikat utamanya, serta akan membimbing kepada perubahan mendasar struktur budaya dan politik. Inilah yang menjadi dasar pemikiran Fritjof Capra untuk menyodorkan sebuah formula baru tentang paradigma ilmu pengetahuan dan kehidupan, yakni pemikiran sistem.
Karena keterbatasan kemampuan kami dalam mengkaji dan memahami ataupun upaya mempresentasikan keseluruhan isi buku ini dengan baik, maka kami hanya akan mefokuskan pokok bahasan mengenai krisis dan transformasi global sebagaimana tertuang pada bagian pertama dari buku “Titik Balik Peradaban” karya Fritjof Capra. Dan kami juga mengkaji sedikit dari semua krisis global dengan melakukan pendekatan sesuai pandngan Capra tentang visi baru dunia dengan pendekatan sistem.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Krisis Global Dalam Kehidupan Masyarakat.

Pada akhir abad ke-20, masyarakat dunia dihadapkan pada serangkaian masalah global yang membahayakan masa depan planet bumi. Ancaman ini sangat mengejutkan karena terjadi dalam waktu yang singkat serta tidak dapat dikembalikan pada wujud semula. Isu utama dan dominan adalah masalah lingkungan hidup.Untuk pertama kalinya kita diperhadapkan pada ancaman kepunahan ras manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan penimbunan puluhan ribu senjata nuklir, yang cukup untuk menghacurkan seluruh dunia beberapa kali. Untuk mengembangkan fasilitas nuklir ini diperlukan biaya yang cukup besar. Pada tahun 1978, sebelum terjadinya peningkatan biaya terbaru, pengeluaran militer dunia kira-kira 425 miliar dolar lebih dari 1 miliar dolar setiap harinya, lebih dari seratus Negara sebahagian besar berada di dunia ke tiga, berada dalam bisnis penjualan senjata, penjualan alat perlengkapan militer baik untuk perang nuklir maupun konvensional lebih besar dari pendapatan nasional, konsekuensinya Negara-negara yang berada di dunia ke tiga masih hidup dibawah garis kemiskinan.
Di Amerika, dimana kompleksitas industri militer telah menjadi bagian yang integral dari pemerintah, pentagon mencoba membujuk kita bahwa membangun lebih banyak senjata akan membuat Negara menjadi lebih aman. Kenyataannya justru sebaliknya, semakin banyak senjata nuklir berarti semakin banyak bahaya. Selama beberapa tahun terakhir telah terlihat adanya suatu perubahan yang mengkhawatirkan dalam kebijakan pemerintahan Amerika, suatu kecenderungan dengan membangun gudang senjata nuklir yang tidak dimaksudkan untuk pembalasan melainkan untuk menyerang pertama. Terdapat semakin banyak bukti bahwa strategi penyerangan pertama bukan lagi menjadi pilihan militer melainkan sudah menjadi sesuatu yang sentral bagi kebijakan pertahanan Amerika. Dalam situasi semacam itu, setiap rudal baru akan membuat perang nuklir semakin mungkin. Senjata nuklir tidak meningkatkan keamanan, sebagaimana kata militer. Senjata nuklir akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan secara global.
Bahkan tanpa mempertimbangkan ancaman malapetaka nuklir sekalipun, ekosistem global dan evolusi kehidupan selanjutnya di bumi berada dalam bahaya yang serius dan bisa berakhir dalam satu bencana ekologis dalam skala besar. Kelebihan penduduk dan teknologi industri telah menjadi penyebab terjadinya degradasi hebat pada lingkungan alam yang sepenuhnya menjadi gantungan hidup kita. Sebagai akibatnya, kesehatan dan kesejahteraan hidup kita terancam kota-kota besar menjadi tertutup oleh selimut asap-kabut yang berwarna kuning dan terasa menyesakkan.
Berbarengan dengan munculnya berbagai bentuk patalogi social ini kita juga menyaksikan adanya berbagai anomali ekonomi yang tampak mengacaukan semua ekonomi dan politik terkemuka kita. Inflasi yang menjadi-jadi, pengangguran besar-besaran, dan distribusi pendapatan dan kekayaan tidak merata telah menjadi sifat-sifat struktur sebagian besar ekonomi nasional. Kecemasan yang timbul dari masyarakat umum dan para wakil rakyat diperburuk oleh presepsi bahwa sumber energi dan sumber alam yang merupakan bahan-bahan dasar dari semua aktivitas industri terkuras habis.
Krisis global dalam kehidupan masyarakat berdampak pada Berbagai semua aspek seperti dalam bidang sosial: meninggalnya lebih dari 15 juta orang sebagian besar diantaranya anak-anak meninggal karena kelaparan setiap tahun, lima ratus juta lainnya kekurangan gizi dengan serius, tiga puluh lima persen dari seluruh umat manusia kekurangan air minum yang bersih,. Dalam bidang ekonomi: terjadi inflasi yang menjadi-jadi, pengangguran besar-besaran, dan distribusi pendapatan dan kekayaan yang tidak merata. Dalam bidang lingkungan; tercemarnya udarah, makanan dan air akibat elemen radio aktif yang dilepaskan. Dalam bidang ekologi; tumbuh-tumbuhan menjadi mati dan binatang mulai mengurang. Dalam bidang kesehatan; berbagai penyakit yang melanda umat manusia seperti: penyakit kanker, Hati, stroke dan psikologi sosial misalnya depresi, schizophrenia, serta dalam bidang politik munculnya disintegrasi, perang antar negara dan lain sebagainya.
Adalah suatu tanda zaman yang paling mengejutkan bahwa orang-orang yang seharusnya ahli dalam berbagai bidang tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang telah muncul didalam bidang-bidang keahlian mereka. Ekonom tidak mampu memahami inflasi, onkolog sama sekali bingung tentang penyebab-penyebab kanker, psikeater dikacaukan oleh schiszofrenia, polisi tidak berdaya menghadapi kejahatan yang meningkat, dan lain sebagainya. Pada tahun 1979 surat kabar The Washington Post memuat sebuah ceritera yang berjudul “The Cupboard of Ideas is Bare” yang meceritakan bahwa pemikir-pemikir besar yang mengaku bahwa mereka tidak mampu lagi memecahkan persoalan-persoalan kebijakan yang paling mendesak bagi bangsa mereka.
Eksploitasi terhadap alam telah berjalan seiring dengan eksploitasi terhadap perempuan, yang telah berjalan seiring dengan alam selama berabad – abad. Sejak semula, alam terutama bumi, dianggap sebagai seorang ibu pengasuh yang baik hati, tetapi juga sekaligus dianggap sebagai perempuan liar yang tidak bisa dikendalikan. Pada masa pra partriarkhal banyak aspek alam dihubungkan dengan berbagai manifestasi dari dewi. Dibawah sistem partriarkhal gambaran alam yang ramah itu berubah menjadi gambaran kepasifan, sedangkan pandanan alam sebagai suatu yang liar dan berbahaya kemudian menimbulkan konsep bahwa alam harus dikuasai oleh manusia. Sementara itu, pada saat yang sama perempuan digambarkan sebagai makhluk yang pasif dan tunduk pada laki-laki. Akhirnya dengan munculnya ilmu Newtonian, alam menjadi sebuah system mekanis yang bisa dimanipulasi dan dieksploitasi, bersama-sama dengan manipulasi dan eksploitasi terhadap perempuan. Dengan demikian, penggabungan antara perempuan dengan alam saling berkaitan dengan sejarah perempuan dan sejarah lingkungan, dan merupakan sumber hubungan alami antara feminisme dan ekologi yang semakin mantap keberadaannya. Caroline Merchant, seorang ahli ilmu sejarah dari university of California, Berkeley, mengungkapkan:
Dalam menggali akar-akar dilema lingkungan kita dewasa ini dan keterhubungannya dengan ilmu, teknologi, dan ekonomi kita harus mengkaji ulang formasi pandangan dunia dan ilmu, yang mendukung dominasi atas alam perempuan, dengan memuaskan kembali konsep realitas sebagai sebuah mesin. Sumbangan-sumbangan para perintis ilmu moderen seperti : Francis Bacon, William Harvey, Rene Descries, Thomas Hobbes, dan Isacc Newton harus dievaluasi Kembali.

Masalah-masalah global menyangkut kehidupan masyarakat dunia baik sekarang maupun masa yang akan datang tersebut perlu ditanggapi dengan kerja keras dan pemikiran yang komprehensif, sistimatis dan futuristic maka diperlukan suatu perubahan yang radikal dalam presepsi, pemikiran dan nilai-nilai. Dalam hubungan tersebut Capra mengemukakan teorinya tentang nilai-nilai yang bersifat ekosentris dengan menyodorkan formula baru tentang paradigma ilmu pengetahuan dan kehidupan, yaitu pemikiran system.
Capra mengatakan bahwa pandangan hidup yang merupakan landasan kita bagi ilmu-ilmu social, termasuk ilmu perliaku terutama ilmu ekonomi, merupakan persoalan-persoalan sisitematik yang non linier dan tidak lagi dapat dipahami dengan hanya memakai pola pikir Cartesian (1998:560). Capra mengajukan penelitian yang beretika ( ia merujuk pada etika ekologi I Ching dan filsafat dari filsafat Timur/Cina: Doaisme) dan mengacu kepada konteks ekologi yang relevan dengan permasalahan ……..”. (Rochiati Wiriiatmadja, ….:2).
Dari pikiran-pikiran diatas, terlihat dengan jelas terjadinya perubahan dan alur pergeseran paradigma (SHIFT), dari epistemolo yang Cartesian – Newtonian ke paradigma ekologi yang ditawarkan oleh Capra. Dengan memodifikasi defenisi Thomas Khun mengenai paradigma ilmiah kepada paradigma social maka Capra mereumuskan bahwa “suatu konstelasi konsep-konsep, nilai-nilai, presepsi-presepsi dan praktek-praktek yang digunakan bersama oleh suatu komunitas, yang membentuk suatu visi tertentu atas realita yang merupakan basis bagi cara komunitas tersebut mengatur dirinya. Paradigma baru ini dinamakan suatu pandangan dunia holistic, yang memandang duni sebagai suatu keseluruhan yang terpadu, bukan suatu kumpulan bagian-bagian yang terpisah. Paradigma baru tersebut juga suatu pandangan ekologis, yakni melihat dunia bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. Ekologi mengakui nilai-nilai intrinsik semua makhluk hidup dan memandang mansia tidak lebih dari suatu untaian dalam jarring-jaring kehidupan atau tidak dapat dipisah-pisah, satu sama lain saling tergantung. Seperti masalah keterbelakangan yang dihadapai oleh Negara-negara dunia ke tiga. Semuanya ini berhubungan satu dengan yang lain, yang menggambarkan suatu lingkaran setan yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan masyarakat.

Pandangan Capra terlihat dengan jelas dalam kehidupan kita saat ini misalnya: Banjir, tanah longsor, erosi tanah, misalnya, merupakan konsekwensi tak terelakan dari kesalahan filosofis manusia dalam memperlakukan alam ini. Fritjof Capra menyebut tendensi ini sebagai “shallow ecology”. Mustofa Muchdhor.

B. Memahami Krisis Yang Terjadi

Pertanyaan yang menarik disini adalah bagaimana kita bisa memahami krisis yang melanda kita saat ini? Kita dipaksakan untuk melihat krisis-krisis besar dalam konteks evolusi kebudayaan dan peradaban manusia. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, kita akan memanfaatkan tiga pendekatan yaotu konsep Arnold Toynbee dalam A Study Of History, dengan konsep siklus, konsep nilai budaya yang dikemukakan oleh Pitrim Sorokin dan gagasan kearifan dari I Ching.
Kita harus mengubah prespektif kita dari abad ke duapuluh ke satu rentang waktu yang mencakup ribuan tahun: dari pengertian struktur social statis hingga presepsi pola-pola perubahan dinamis. Dilihat dari prespektif ini, krisis muncul sebagai suatu aspek transformasi. Orang-orang Cina, yang memiliki suatu pandangan dunia yang benar-benar dinamis dan suatu pengertian sejarah yang tajam, tampak menyadari bahwa adanya hubungan yang kuat antara krisis dan perubahan. Istila yang mereka gunakan untuk “krisis” –we-ji- terdiri dari dua huruf yang berarti bahaya dan kesempatan. Para sosiolog barat telah menegaskan tentang intuisi kuno ini. Berbagai studi tentang periode-periode transformasi budaya diberbagai masyarakat telah menunjukan bahwa trasformasi tersebut secara tipikal didahului oleh bermacam-macamindikator social, banyak diantaranya identik dengan gejala-gejala krisis dewasa ini. Pada masa-masa perubahan budaya histories indicator-indicator ini cenderung muncul dalam satu hingga tiga dasawarsa sebelum transformasi sentral terjadi, yang semakin meningkat frekwensi dan intensitasnya pada saat transformasi ini mendekat, dan kemudian menurun lagi setelah transformasi itu terjadi.
Transformasi budaya semacam ini merupakan langka-langkah esensial dalam perkembangan peradaban. Menurut Arnold Toynbee, terjadi sesuatu peradaban itu sendiri dimulai suatu transisi yaitu dari kondisi statis ke aktifitas dinamis. Transisi ini mungkin terjadi secara spontan, melalui pengaruh beberapa peradaban yang vtelah ada melalui disitegrasi dari suatu peradaban atau lebih dari generasi yang lebih tua. Toynbee melihat pola dasar dalam terjadinya peradaban itu sebagai suatu pola interaksi yang disebutnya dengan “tantangan dan tanggapan” . tantangan dari lingkungan alam social memancing tanggapan kreatif dalam suatu masyarakat, atau kelompok social, yang mendorong masyarakat itu memasuki proses peradaban. Peradaban terus tumbuh ketika tanggapan terhadap tantangan awal berhasil membangkitkan momentum budaya yang membawah masyarakat keluar dari kondisi equilibrium mamasuki suatu keseimbangan yang berlebihan (overbance) yang tampil sebagai tantangan baru. Dengan cara ini, pola tantangan dan tanggapan awal terulang dalam fase-fase pertumbuhan berikutnya, dimana masing-masing tanggapannya berhasil menimbulkan suatu disequilbrium yang menuntut penyesuaian-penyesuaian kreatif baru.
Beberpa pemikiran dalam kaitan dengan perkembangan peradaban yang dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya:
1. Para filsuf Cina Kuno percaya bahwa semua manifestasi realitas, dihasilkan oleh dinamika yang saling mempengaruhi antara dua kutup kekuatan yang disebut yin dan yang
2. Heracilitus pada zaman Yunani Kuno, membandingkan tatanan dunia dengan api abadi, yang “ menyala dalam ukuran tertentu dan padam dalam ukuran tertentu”.
3. Empedocles menghubungkan perubahan-perubahan di alam semesta dengan pasang dan surutnya dua kekuatan yang saling mengisi, yang disebutnya “cinta” dan “ benci “.
4. Saint simon melihat sejarah peradaban adalah sebagai rangkaian pertukaran periode-periode “organic” dan “kritis”.
5. Herbert Spencer memandang alam semesta bergerak melalui suatu rangkaian “integrasi” dan “ diferensiasi”
6. Hegel memandang sejarah manusia sebagai suatu perkembangan spiral dari suatu bentuk kesatuan melalui fase perpecahan, dan kemudian menuju kearah reintegrasi pada tataran yang lebih tinggi.


READ More...

JARING_JARING KEHIDUPAN (2)


C. Pandangan Arnold Toynbee, Sorokin dan Buku I Ching:

Menurut Toynbee transisi-transisi yang pernah dialami sesuai dengan yang kita alami saat ini. Diantara transisi-transisi itu terdapat tiga yang dapat menghacurkan dasar kehidupan kita dan akan mempengaruhi sistem social, ekonomi dan politik kita secara mendalam, diantaranya:
1. Transisi Pertama Runtuhnya sisitem Parttriarkhal yang enggan dan lambat tapi pasti. Yang kita ketahui adalah bahwa selama tiga ribu tahun terakhir peradaban barat dan pendahulu-pendahulunnya, telah didasarkan atas sistem filsafat, social dan politik dimana ”laki-laki dengan kekuatan, tekanan langsung, atau melalui ritwal, tradisi hukum dan bahasa, kebiasaan, etika, pendidikan dan pembagian kerja-menentukan peran apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dimainkan oleh perempuan, dan dimana perempuan dianggap lebih rendah dari pada laki-laki”.
2. Transisi Kedua Yang akan berdampak kuat pada kehidupan kita dipaksakan kepada kita oleh runtuhnya zaman bahan baker fosil. Bahan baker fosil, batubara, minyak bumi dan gas alam telah menjadi sumber energi penting bagi era industri moderen, dan pada waktu bahan baker itu habis, maka era ini akan berakhir.
3. Transisi Ketiga berhububgan erat dengan nilai-nilai budaya. Transisi ini melibatkan apa yang disebut dengan “perubahan paradigma” suatu perubahan penting dalam pemikiran, presepsi dan nilai-nilai yang membentuk suatu visi realitas tersendiri. Untuk lebih jelasnya perhatikan skema dibawah ini.

S.M M
Peradaban Peradaban Zaman
Mesis Ynani bahan baker fsil




3000 2000 1000 1000 2000

Zaman bahan bakar fosil dalam konteks Evolusi budaya
Perubahan-perubahan nilai yang berfluktuasi ini dan pengaruh-pengaruhnya pada semua aspek kehidupan masyarakat, setidak-tidaknya di barat, telah dipetakan oleh sosiolog Pitrim Sorokin, yang menyebut ketiga sistem ini sebagai indrawi, Ideasional dan Iealistik.
1. Sistem Nilai Indrawai berpendapat bahwa: materi itu sendiri merupakan realitas utama, dan bahwa fenomena spiritual hanyala suatu manifestasi dari materi. Sistim ini berpandangan bahwa semua nilai etika bersifat relative dan bahwa presepsi indrawi merupakan satu-satunya sumber pengetahuan dan kebenaran.
2. Sistem Nilai Ideasional percaya pada nilai-nilai etika absolute dan standar keadilan, kebenaran dan keindahan supermanusiawi.
3. Sistem Nilai Idealistik merupakan perpaduan antara indrawi dan ideasional. Menurut kepercayaan idealistik, realitas sejati mempunyai aspek-aspek baik indrawi maupun suprainrawi yang berada secara bersamaan didalam suatu kesatuan yang menyeluruh.

Kemunduran perlahan dari masa ideasional dan idealistic pada abad ke lima belas dan keenambelas inilah yang memungkinkan bangkitnya periode indrawi pada abad ketujubelas, kedelapanbelas dan kesembilan belas, suatu era yang ditandai dengan sistem nilai pencerahan, pandangan-pandangan ilmiah Descrates dan Newton dan teknologi refolusi industri.
Kemunduran sistem partriarkhal, berakhir zaman bahan baker fosil, dan semua perubahan paradigma yang terjadi pada masa akhir kebudayaan indrawi semuanya berpengaru pada proses global yang sama. Oleh karena itu, krisis dewasa ini bukan sekadar krisis individu, pemerintah, atau lembaga social, melainkan suatu transisi yang berdimensi planet. Sebagai individu, sebagai masyarakat, sebagai peradaban, dan sebagai ekosistem planet, kini kita telah mencapai titik balik.


Buku Kearifan tertua I Ching dari Cina

Buku I Ching” atau Buku Perubahan” Gerak adalah sesuatu yang alami, yang muncul secara spontan., buku ini merupakan salah satu buku kearifan tertua dari Cina, bahwa; alam selalu bergerak sebagai hasil interaksi dinamis dua kutub Yin dan Yang. Istilah Yin dan yang
Yin digambarkan sebagai sifat feminis, lunak, intuitif, koparatif, holistic, serta ekosentris. Sementara Yang digambarkan sebagai sifat maksulin, keras, kompetetif, rasional dan egosentris. Realitas yang disebut sebagai Tao, merupakan hasil interaksi dinamis dua kutub tersebut apabilaYang mencapai klimaksnya, akan mundur demi Yin dan atau sebaliknya.
Istilah yin dan yang akhir-akhir ini menjadi sangat populer di barat, tetapi istilah tersebut di dalam kebudayaan kita hampir tidak pernah digunakan sebagaimana pengertian aslinya di Cina. Sebagian besar penggunaan istilah yin dan yang di Barat mencerminkan prasangka budaya yang menyimpang dari makna aslinya. Salah satu interpretasi terbaik terhadap kedua istilah tersebut diberikan oleh Manfred Porkert dalam studi komprehensifnya tentang obat-obatan Cina. Menurut Porkert, yin berhubungan semua yang bersifat kontraktif, responsif, dan konservatif, sedangkan yang menyiratkan semua yang bersifat ekspansif, agresif, dan menuntut. Pengaitan lebih jauh antara lain meliputi:

YIN YANG
BUMI LANGIT
BULAN MATAHARI
MALAM SIANG
MUSIM DINGIN MUSIM PANAS
KELEMBABAN KEKERINGAN
KESEJUKAN KEHANGATAN
BAGIAN DALAM BAGIAN PERMUKAAN


Dalam kebudayaan cina Yin dan Yang tidak pernah dihubungkan degan nilai-nilai moral. Yang baik bukanlah Yin dan bukan pula Yang, melainkan keseimbangan dinamis antar keduanya. Sejak masa awal kebudayaan Cina, Yin diasosiasikan dengan keperempuanan dan Yang dengan kejantanan. Asosiasi kuno ini sangat sulit diterima saat ini disebabkan karena adanya penafsiran kembali dan terjadinya distorsi pada zaman partriarkhal berikutnya. Dalam biologi manusia, karakter maskulin dan feminism tidak dapat dilepas pisahkan secara seksama, tetapi berada didalam kedua jenis kelamin itu dengan perbandingan yang berfariasi. Begitupula, orang-orang kuno percaya bahwa semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan melewati fase Yin dan Yang. Kepribadian setiap laki-laki dan setiap perempuan bukanlah sesuatu entitas yang statis melainkan suatu fenomena yang dinamis yang dihasilkan dari kesalinghubungan antara elemen-elemen feminim dan maksulin.
Sedangkan dalam pandangan biasa patriakhal Yin selalu dihubungkan dengan kepastian dan Yang dengan kearifan; hal ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dan tampak sebagai ungkapan lain dari stereotip patriakhal, suatu interpretasi barat moderen yang tidak mungkin konsisiten dengan pemikiran cina dan tidak mungkin mencerminkan makna istilah Cina aslinya.
Tulisan ini dituturkan lebih menganggap hubungan Yin dan Yang sebagai kearifan intutif yang merupakan dasar bagi aktifitas ekologis dan pengetahuan rasional yang melahirkan aktifitas yang terpusat pada diri. Berikut ini adalah penghubungan makna Yin dan Yang.
Hubungan Antara Yin dan Yang
Yin Yang
• Feminim
• Menyusut
• Konservatif
• Responsif
• Kooperatif
• Intuitif
• Sintesis • Maksulin
• Mengembang
• Menuntut
• Agresif
• Kompetitif
• Rasional
• Analitis

Terlihat jelas bahwa Yin dan Yang merupakan dua prinsip yang berlainan bukan berlawanan secara kontradiktur, namun keduanya merupakan dua hal yang saling mengisi dan melengkapi dalam keserasian keseimbangan. Dalam hubungan dengan makrokosmos maka aliran ini mengajarkan bahwa didalam alam semesta itu ada lima unsure asli yaitu : tanah, logam, kayu, air dan api. Kelima unsur asli mempunyai sifat produktif dan destruktif dalam keadaan yang tertutup. Jadi kelima unsur asli merupakan satu kesatuan yang dinamis. (Rustam E. Tamburaka, 1999 : 248).



D. Cara Berfikir Sistem dan Penerapannya dalam Analisis Permasalahan- permasalahan Sosial

Di awal millenium ini dunia sedang menghadapi beberapa persoalan besar yang saling terkait satu ama lain dalam satu jalinan permasalahan yang kompleks. Persoalan-persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu bidang keahlian saja, tanpa mengubah secara mendasar cara kita memandang persoalan tersebut. Pemahaman yang mendalam mengenai struktur kehidupan berguna untuk keelanjutan hidup manusia, kelestarian lingkungan, dan masa depan bumi. Dengan data dan fakta yang disajikan, capra mengajak umat manusia menghayati bahwa seluruh bumi merupakan sebuah kehidupan yang utuh dan padu. Konstruksi demikian hanya bisa dimengerti jika dikaji melalui paradigma sistem:
Ilmu pengetahuan moderen telah memecah persoalan-persoalan dunia ini menjadi bagian kecil, misalnya berdasarkan sektor. Msalah ekonomi dipecahkan oleh ekonomo, maslah politik dipecahkan oleh politikus, masalah lingkungan dipecahkan oleh para ahli ekologi. Pendekatan ini disebut pendekatan reduksionis. Padahal semua persoalan ini bukanlah persoalan yang berbeda-beda, melainkan hanyalah sisi-sisi yang berbeda dari bangunan yang sama, sebagai realitas dunia ini. Persoalan ini berhubungan satu dengan yang lain dalam satu jaring-jarting permasalahan yang kompleks.
Dunia sedang mencari bentuknya. Dunia sedang berevolusi ke satu tingkat peradaban baru yang lebih berkualitas daripada tingkat peradaban sebelumnya. Hal ini berarti harus ada penyelesaian terhadap persoalan-persoalan umum dunia seperti ketidakadilan sosial, kemiskinan dan kerusakan linkungan. Denga paradigma yang lama, yakni pendekatan reduksionis, permasalahan-permasalahan itu tidak mungkin terselesaikan. Dibutuhkan sebuah paradigma baru mengenai cara manusia memandang persoalan dunia yang akan menentukan langkah-langkah penyelesaian yang akan diambil. Hal itu dapat terjadi jika segenap umat manusia bekerja sama kearah perubahan itu.


Pendekatan Sistem

Cara berfikir sistem adalah salah satu pendekatan yang diperlukan agar manusia dapat memandang persoalan-persoalan dunia ini dengan lebih menyeluruh dan dengan demikian pengambilan keputusan dan pilihan aksi dapat dibuat lebih terarah kepda sumber-sumber persoalan yang akan mengubah sistem secara efektif.
Pandangan sistem melihat dunia dalam pengertian hubungan danintegrasi. Sistem adalah keseluruhan yang terintegrasi yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi menjadi sifat-sifat unit yang lebih kecil. Pendekatan sistem tidak memusatkan pada blok-blok bangunan dasar atau zat-zat dasar yang melainkan lebih menekankan pada prinsip-prinsip organisasi dasar. Contoh-contoh sistem semacam ini terdapat dialam raya. Setiap organise dari bakteri yang paling kecil, bermacam-macam tumbuhan dan binatang, hingga manusia merupakan suatu keseluruhan yang terintegrasi dan dengan demikian berarti sebuah sistem yang hidup, dan begitupula berbagai jaringan dan organ tubuh; otak manusia merupakan suatu contoh sistem hidup yang paling kompleks. Namun sistem itu tidak terbatas pada organisme indivedual dan bagian-bagiannya.
Semua sistem alami ini merupakan keseluruhan yang struktur-struktur khususnya muncul dari interaksi dan saling keergantungan bagian-bagiannya. Aktivitas sistem ini melibatkan suatu proses yang dikenal dengan transaksi – interaksi seketika dan ketergantungan satu sama lain antar komponen=komponen majemuk. Suatu aspek penting lainnya adalah hakikat sistem yang secara intrinsik bersifat dinamis. Bentuknya bukan merupakan strukur-struktur yang kaku melainkan merupakan merupakan manifestasi-manifestasi luwes tetapi stabil dari proses-proses yang mendasarinya.

Ilmu pengetahuan moderen telah mencapai kemajuannya dengan memecah-mecah sistem menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mempelajari secara mendalam masing-masing bagian itu. Pendekatan ini tidak berlaku untuk sistem. Sebuah sistem adalah lebih daripada bila seluruh komponennya dijumlahkan. Dan sistem akan bekerja bila seluruh komponennya terletak dan terhubung pada tempatnya. Termasuk dalam berfikir sistem adalah kemampuan untuk melihat melalui lensa yang berbeda. Lensa-lensa tersebut adalah time horizon (rentang waktu) dan space horizon (rentang tempat).

Beberapa nilai yang terkandung dalam cara berfikir sistem:
1. Menghargai bagaimana model mental mempengaruhi cara pandang kita
2. Menguba prespektif untuk melihat leverage point baru
3. Melihat pada kesalingtergantungan (interdependencies)
4. Merasakan dan menghargai kepentingan jangka panjang
5. Memperkirakan yang biasanya tidak diperkirakan
6. Menyadari agian yang sulit tanpa tendensi untuk menyelesaikan dengan tergesa-gesa
7. Mencari pengalaman
8. Menggunkan bahasa pola dasar dan analogi untuyk mengantisipasi perilaku dan kecenderungan untuk berubah

Tiga presepsi yang membantu menjelaskan perilaku sistem
1. Data dalam urutan waktu merupakan data perilaku riil sistem yang terjadi pada saat tertentu, misalnya tinggi air di sungai ketika banjir pada saat tertentu
2. Diagram modus referensi; menggambarkan gerakan dari 3 atau 4 variable kunci yang saling berhubungan pada sistem selama jangka waktu tertentu. Diagram ini didasarkan pada rentang waktu yang cukup untuk melihat struktur yang membentuk perilaku
3. Diagram struktural; merupakan jaringan hubungan sebab akibat yang menentukan perilaku sistem. Diagram struktural ini terdiri atas link dan loop yang membentuk pola hubungan sebab akibat. Link adalah hubungan dua variable di dalam sistem.


BAB III
SIMPULAN

Frtjof Capra dalam bukunya The Turning Point: yang diterjemhkan (Titik Balik Peradaban), mengemukakan bahwa munculnya berbagai krisis ekonomi, politik, kesehatan, sosial, lingkungan, dan sebagainya pada saat ini tiada lain hanyalah segi-segi krisis tunggal. Dinamika yang mendasari masalah-masalah tersebut sebenarnya sama, yakni krisis budaya yang multisegi. Krisis tersebut melanda dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan secara terus menrus dan memiliki dampak positif dan dampak negatif di kehidupan sekarang. Dampak positif dari perkembangan ilmu pengetahuan yaitu manusia akan semakin mudah menuntaskan masalah yang dihadapinya. Tetapi dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan itu, apabila perkembangan ilmu pengetahuan itu tidak diimbangi oleh hal-hal yang berupa nilai kemanfaatan dan nilai kebergunaan maka perkembangan ilmu pengethuan akan mengakibatkan kehancuran bagi peradaban manusia itu sendiri. Seperti masa sekarang dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan ilmuan barat, menimbulkan kehancuran seperti bahaya nuklir dan sebagainya. Maka untuk menghindari hal ini, harus ada keseimbangan, apabila menurut Capra harus ada keseimbangan antara filsafat timur dan filsafat barat. Lalu menurut Sorokin harus ada keseimbangan antara indrawi dan supraindrawi.
Ada berbagai solusi untuk mengatasi masalah-masalah ini; bahkan beberpa diantaranya cukup sederhana. Namun menghendaki suatu perubahan radikal dalam presepsi, pemikiran, dan nilai yang ada. Capara juga menyadari bahwa konsep fisika dan seluruh cara berfikir yang ada sudah tidak memadai untuk melukiskan fenomena atomis. Artinya problem yang ada bukan lagi bersifat intelektual tetapi telah berkembang menjadi krisis emosional yang mendalam. Untuk mempertahankan hidup itulah, ilmu pengetahuan ada. Maka dari adanya ilmu pengetahuan dan didukung oleh perkembangannya yang cepat membawa manusia memasuki pada pencerahan. Sehingga pada masa ini pengetahuan mampu membawah manusia kepada tahap pencerahan sehingga manusia mencapai puncak kebudayaan itu. Hal ini dapat dibuktikan oleh sejarah, bahwa berbagai macam peradaban dan kebudayaan dapat mencapai puncaknya dikarenakan mereka memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan alam. Contohnya dalam sejarah Eropa, bangsa Eropa dapat mencapai pencerahan karena mereka memiliki pengetahuan didukung dengan perkembangan yang cepat pada masa itu. Dari perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat itulah mereka dapat mencapai puncak dari kebudayaan.
Pemahaman yang mendalam mengenai stuktur kehidupan berguna untuk kelanjutan hidup manusia, kelestarian lingkungan, dan masa depan bumi. Dengan data dan fakta yang disajikan maka Capra mengajak manusia menghayati bahwa seluruh bumi merupakan sebuah kehidupan yang utuh dan padu. Konstruksi demikian hanya bisa dimengerti jika dikaji melalui pendekatan sistem. Pemikiran sistem muncul pada tahun 1920-an yang dipeloposri oleh para biolog. Mereka menekankan bahwa semua organisme hidup adalah keseluruhan yang padu. Kesalingtergantungan adalah prinsip dasar semua hubungan ekologis. Jadi konstruksi dasar ekologi dalam adalah kemitraan, fleksibilitas dan keberagaman.
Sistem adalah sekumpulan elemen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dan membentuk fungsu tertentu. Pandangan sistem tentang organisme hidup sulit ditangkap dari prespektif ilmu klasik karena memermulkan modifikasi-modifikasi penting dari banyak konsep dan pemikiran klasik. Ketika mereka mengaopsi revisi drastis dari konsep-konsep realitas dasar mereka untuk memahami fenomena atom. Paralel ini diperkuat lebih jauh oleh kenyataan bahwa pengertian komplementaritas, yang begitu menentukan didalam perkembangan fisika atom, juga tampak memainkan peran yang penting didalam biologi sistem baru.
Yang harus digaris bawahi oleh bahwa pemikiran istem berbeda dengan ”pemikiran holistik” pemahaman holistik menunjukkan pada suatu keseluruhan fungsional, yang mengerti kesalingtergantungan bagian-bagiannya, tetapi melupakan nilai dan etika. Sedangkan ”pandangan (pemikiran) sistem” menambahkan definisi holitik dengan satu yang melekat pada lingkungan alamiah dan sosialnya. Pemikiran holistik pasti masuk wilayah sistem. Tetapi tidak sebaliknya.


DAFTAR PUSTAKA


Capra Fritof. (2004). Titik Balik Peradaan. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka

Tamburaka E. Rustam H. (1999) Pegantar Ilmu Sejarah, Teor Filsafat Sejarah, Sejarah
Fiilsafat dan IPTEK. Jakarata: PT ineka Cipta

Wiriatmadja Rochiati (……). Perubahan dan Alur Pergeseran (SHIFT): dari Moderensme Ko ostmoderenisme, Sebuah BahanPemikiran Dalam Filsafat Ilmu. Makalah


READ More...

ILMU DALAM PERSPEKTIF


BAB I
PENDAHULUAN


Manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan materi seperti Makanan air serta udara sandang dan papan guna memenuhi kelangsungan hidup atau untuk mempertahankan hidupnva. Selain itu manusia tidak hanya mencarai kebutuhan berbentuk material tetapi juga membutuhkan non material seperti keamanan kenyamanan, ketentraman. dan keduniawian. Kebutuhan dua jenis ini, dapat diperoleh dengan sangat cepat, beragam dan berkembang, sehingga mencapai manusia yang berkualitas. Mengapa demikian karena manusia mencapai harapan tersebut perlu suatu pengetahuan. sedangkan pengetahuan itu seridiri diperoleh melalui proses berfikir.
Proses berfikir merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Parung homo sapiens mahluk yang berpikir karyanya Auguste Rodin merupakan lambang, kemanusiaan kita sebagai makhluk yang berpikirlah dia menjadi manusia.


BAB II
ILMU DALAM PERSPEKTIF

A. Hakekat Ilmu
Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obor dan semen peradaban manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningkatkan. kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya.
Hakekat upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok, yaitu Apakah yang ingin diketahui? Bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan? dan Apakah pengetahuan tersebut berguna bagi kita? . Pertanyaan ini kelihatanya sederhana tetapi mencakup permasalan yang sangat azasi. Berbagai buah
Pemikiran yang besar sebenarnya merupakan serangkaian jawaban yang diberikan atas ketiga pertanyaan di atas. Pemikiran pemikiran besar dalam sejarah kebudayaan manusia dapat dicirikan dan dibedakan dari cara. menjawab pertanyaan tersebut.
Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan tersebut. Untuk menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakekat i1mu itu sebenamya . Pengertian hakekat ilmu secara mendalam bukan saja akan meningkatkan apresiasi kita terhadap ilmu namun juga mambuka mata kita terhadap berbagai kekurangan. Hakekat ilmu tidak berhubungan dengan gelar profesi atau kedudukan, hakekat ilmu ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut persyaratan.
1. Ilmu dan falsafah
Ilmu merupakan kumpulan dan pengetahuan yang mempunyai ciri ciri tertentu yang membedakan ilmu dengan pengetahuan. lainnya. Ciri-ciri keilmuan didasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap ketiga pertanyaan di atas.
Falsafah mengandung banyak pengertian namun untuk tujuan pembahasan. kita. falsafah diartikan sebagai suatu cara berpikir kita. mulai dari awal sampai akhir yang dinyatakan Socrates bahwa tugas falsafah yang sebenarnya bukanlah untuk menjawab pertanyaan kita, namun mempersoalkan jawaban yang diberikan . kemajuan manusia dalam falsafah bukan diukur dari jawaban yang diberikan namun juga dari pertanyaan yang diajukan.

2. Dasar Ontologi Ilmu
Apakah yang ingin diketahui Ilmu ? Apakah yang menjadi bidang telaah ilmu ? Bidang lain seperti agama umpamanya memasukkan ke dalam. ruang lingkup pengkajiannya hal hal diluar jangkauan pengalaman manusia.
Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui dan seberapa jauh kita ingin mengetahui Ruang lingkup pengkajian meliputi:
a. Kejadian yang diluar pengalaman manusia, seperti agama, misalnya apa yang terjadi sesudah manusia meninggal.
b. Kejadian yang terjangkau fitrah pengalaman manusia, atau disebut juga empiris adalah fakta yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya.
Berdasar objek yang ditelaahnya maka ilmu dapat disebut juga sebagai suatu pengetahuan empiris dimana objek objek yang berbeda di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahnya. Untuk objek Empiris kita menagunakan asumsi yang sangat diperlukan karena pernyataan asumsi inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan kita.
Secara lebih rinci ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai empiris yaitu:
1. Menganggap objek objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain.
2. Suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Dalam penelitian kita mernberikan batasan waktu terhadap objek yang diteliti, sehingga memungkinkan melakukan pendekatan keilmuan.
3. Determinasi kita menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan urutan kejadian yang sama.

3. Dasar Epistomologi Ilmu
Epistomologi atau teori pengetahuan,membahasa secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yan membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainya. Dengan perkataan lain,ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode keilmuan, karena ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yakni pengetahuan yang memiliki sifat sifat tertentu,maka ilmu juga dapat disebut pengetahuan keilmuan.Agar tidak terjadi kekacauan antara pengertian ilmu dan pengetahuan maka kita mempergunakan istilah ilmu untuk ilmu pengetahuan.
Ditinjau dari sejarah cara berpikir manusia terdapat dua pola dalam memperoleh pengetahuan yaitu ; rasionalisme dan empirisme yang masing masing punya kelebihan dan kekurangan sehingga digabungkanlah kepada. pola tersebut untuk menemukan pengetahuan yana benar. Gabungan tersebut disebut metode keilmuan
Rasioanalisme memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis.Sedangkan empirisme kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran . Kedua metode ini dipergunakan secara, dinamis menghasilkan pengetahuan yang konsisten dan sistematis serta dapat diandalkan sebab pengetahuan telah teruji secara empiris
Kelebihan ilmu terletak pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis telah teruji kebenaranya. Ilmu yang disusun akan membentuk suatu kerangka yang bersifat komulatif , dan sifat inilah yang memungkinkan ilmu berkembang dengan pesat dan waktu relatif singkat.
Disamping kelebihan yang ada, ilmu juga terdapat kekurangan kekurangan yang bersumber pada asumsi landasan epistomologi ilmu yang menyatakan bahwa kita mampu memperoleh pengetahuan yang bertumpu pada persepsi,ingatan dan penalaran. Persepsi kita. yang mengandalkan panca indera jelas mempunyai kelemahan, sebab panca indera manusia tidak sempurna. Demikian juga,bahwa ingatan kurang bisa dipercaya sebagai cara untuk menemukan kebenaran. Kiranya tak usah dipersoalkan dan diragukan lagi, apalagi cara kita menalar untuk sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan jelas sekali mempunyai kelemahan kelemahan.

4. Konsep Dalam Ilmu
Tujuan utama kegiatan keilmuan adalah mencari pengetahuan yang bersifat umum dalam bentuk teori hukum, kaidah, azas dan sebagainya, tentu saja derajat kerampatan (generalisasi) dari berbagai objek penelaahan berbeda beda tapi perberdaanya hanya dalam derajat bukan dalam hakekat.
Proses untuk mendapatkan pengetahuan keilmuan dalam semua bidang i1mu adalah sama, baik itu bidang ilmu alam maupun ilmu sosial. Metode yang dipergunakan adalah metode dengan keilmuan yang sama.
Konsep konsep penting dalam kegiatan keilmuan, yaitu:
1. Induksi adalah suatu cara pengetahuan keputusan dimanaa kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus kasus individual. Cara yang dapat rnembantu kita menarik kesimpulan umum yang dapat diandalkan adalah dengan cara menggunakan statistika. Statistika merupakan alat atau metode yang terlihat dalam proses induktif dari kegiatan keilmuan. Seperti diketahui ilmu tidak menyatakan bahwa suatu kejadian selalu akan mengakibatkan kejadian yang ¬lain, melainkan hanya menyatakan peluang untuk terjadinya kejadian tersebut. Suatu pernyataan keilmuan umpamanya akan berbunyi sebagai berikut “bahwa bila padi dibei pupuk maka tinggi padi mempunyai peluang untuk bertambah“. Dalam hal ini maka statistika membantu kita dalam menghitung besarnya peluang tersebut secara kuantitatif.
2. Deduksi adalah proses yang menarik kesimpulan yang individual dari bersifat umum. Deduksi merupakan proses penarikan kesimpulan dan pernyataan yang kebenaranya telah diketahui. Dan dalam proses deduksi inilah maka logika memegang peranan yang sangat penting. Logika merupakan cara menarik kesimpulan dari premis premis terdahulu, kemudian premis premis tersebut pada dasarnya merupakan pengetahuan tersebut sebagai premis mayor dan premis minor, maka deduksi akan menghasilkan suatu produk yang berupa pengetahuan baru sebagai kesimpulan.
3. Konsep pengukuran, adanya konsep pengukuran ini memungkinkan kita untuk mengetahu hubungan logis antara faktor faktor yang terlibat dalam suatu gejala atau peristiwa dengan lebih seksama. Berdasarkan kronologi perkembanganya maka ilmu dapat dibag dalam tiga tahap yaitu klasifikasi, perbandingan dan kuantitatif.

5. Kegiatan Ilmu Sebagai Sebuah Proses
Kegiatan keilmuan mengenal dua bentuk masalah:
1. Masalah yang belum pernah diselediki sebelumnya, sehingga jawaban atas permasalahan tersebut merupakan pengetahuan baru, penelitian dalam memecahkan masalah ini disebut penelitian murni. Ilmu yang berhubungan dengan masalah ini adalah ilmu murni.
2. Masalah yang berupa konsekuensi praktis dari pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya. Penelitian keilmuan yang menyelidiki bentuk masalah ini disebut penelitian terapan. Ilmu yang berhubungan dengan masalah ini adalah ilmu terapan.

6. Langkah langkah Kegiatan Keilmuan
Proses penelitian merupakan suatu rangkaian terencana dan sistematis, satu sama lain harus saling mendukung. Adapun langkah langkah kegiatan keilmuan antara lain:
1. Perumusan masalah ini penting karena hasilnya akan menjadi penuntun bagi langkah langkah selanjutnya terutama dalam merekonstruksi suatu hipotesis.
2. Penyusunan hipotesis, merupakan dugaan mengenai hubungan antara faktor faktor yang terlibat dalam suatu masalah. Hipotesis merupakan jawaban sementara masalah yang diteliti sehingga dapat mengarahkan macam-macam data yang dikumpulkan, cara-cara pengumpulan data dan model-model analisis ysng digunakan.
3. Deduksi dari hipotesis
4. Pengujian, ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antar masalah yang diteliti.
Dari keempat langkah ini harus dilalui agar suatu penelaahan dapat menghasilkan pengakuan keilmuan. Demikian juga persyaratan persyaratan dalam tiap langkah langk¬ah harus dipenuhi agar produk kegiatanya dapat diterima secara keilmuan.

7. Dasar Aksiologi I1mu
Ilmu bersifat netral, tidak mengenal sifat baik atau buruk dan si pemilik pengetahuan-pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap. Netralistis ilmu hanya terletak pada dasarnya epistemologinya. Sedangkan secara ontologis dan aksiologis. Ilmu harus mampu menilai antara yang baik dan buruk, yang pada hakekatnya mengharuskan dia menentukan sikap. Kekuasaan ilmu yang besar ini mengharuskan seseorang i1muan mempunyai landasan moral yang kuat.

B. Metode Dalam Mencari Pengetahuan
a. Rasionalisme
Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui idea menurut anggapanya adalah tegas, jelas, dan pasti . Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui idea, namun manusia tidak menciptakannya dan tidak mempelajari lewat pengalaman. Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran tidak dapat memahami prinsip, maka prinsip itu tidak ada orang tidak mungkin. akan menggambarkannya. Plato berdalil bahwa untuk mempelajari sesuatu,seseorang harus menemukan kebenaran. yang sebelumnya belum. diketahul. Plato menyatakan bahwa seseorang tidak dapat menyatakan apakah suatu pernyataan itu benar, kecuali kalau dia sebelumnya sudah tahu itu benar. Plato memandang pengetahuan sebagai suatu penemuan yang terjadi selama proses pemikiran rasional yang teratur.
Descrastes menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui indera. bisa menyesatkan maka dia mengambil kesuimpulan bahwa data keinderaan tidak dapat diandalkan. Pikiran aliran rasioanlisme mendapat kritikan yaitu:
1. Pengetahuan rasional dibentuk oleh indera. yang tidak dapat dilihat maupun diraba.
2. Banyak diantara manusia yang berpikiran jauh merasa bahwa mereka menemukan kesukaran yang besar dalam menerapkan rasional kepada masalah kehidupan yang praktis.

3. Teori rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini. Dengan sendirinya banyak dari idea yang suatu waktu kemudian berubah dari waktu ke waktu.


b. Empirisme
Sejak zaman Aristoteles terdapat tradisi epistomologi yang kuat untuk mendasarkan diri kepada pengalaman manusia dan meninggalkan cita cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak. Doktrin empirisme merupakan contoh dari tradisi ini. Kaum empirisme berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi didekat kita terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalmananya.
Dua aspek dari teori empiris:
a. Perbedaan antara mengetahui dan yang diketahui. Yang mengetahui adalah subjek dan benda yang diketahui adalah obyek.
b. Kebenaran atau pengujian kebenaran dari fakta atau objek didasarkan kepada pengalaman manusia. Berarti bagi kaum empiris pernyataan tentang ada atau tidak adanva sesuatu haruslah memenuhi persyaratan pengujian public.
Aspek lain dari empirisme adalah prinsip keteraturan. Kaum empiris menggunakan prinsip keserupaan. Keserupaan berarti bila terdapat gejala gejala yang berdasarkan pengalaman adalah identik atau sama. Maka kita mempunyai jaminan membuat kesimpulan yang, bersifat umum.
John Locke disebut sebagai bapak kaum empiris inggris mengajukan sebuah teori pengetahuan yang menguraikan dengan jelas sifat sifat empirisme. John Locke memandang pikiran manusia sebagai suatu alat yang menerima dan menyimpan sensasi pengalaman. Pengetahuan merupakan hasil dari kegiatan keilmuan yang mengkombinasikan sensasi sensasi tersebut.
Kritik terhadap empirisme:
1. Empirisme didasarkan pada pengalaman
2. Empirisme adalah sebuah teori yang sangat menitik beratkan pada persepsi panca indra. Tetapi pada kenyataanya panca indera manusia terbatas dan tidak sempurna.
3. Empirisme tidak memberikan kepastian kepada kita.

c. Metode keilmuan ( kombinasi antara rasioanalisme dan empirisme )
Ditinjau dari segi perkembangannya, ilmu merupakan gabungan dari cara cara manusia sebelumnya dalam mencari pengetahuan. Pada dasarnya ditinjau dari sejarah berfikir manusia terdapat dua pola dalam memperoleh pengetahuan, yaitu pertama berfikir rasional dan kedua berfikir empirisme.
Pendekatan rasionalisme dan empirisme membetuk dua kutub yang bertentangan yang masing masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka timbul gagasan untuk menggabungkan kedua pendekatan ini dengan metode induktif empiris dalam memperoleh pengetahuan. Metode Keilmuan adalah suatu cara memperoleh pengetahuan suatu rangkaian prosedur tertentu harus diikuti untuk mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan yang tertentu pula.
Langkah langkah berfikir yang diatur dalam suatu urutan tertentu yaitu:
1. Kesadaran akan adanya masalah dan perumusan masalah.
2. Pengamatan dan pengumpulan data
3. Penyusunan atau klasifikasi data
4. Perumusan hipotesa
5. Deduksi dari hipotesis
6. tes dan pengujian kebenaran ( verifikasi ) dari hipotesis.
Kritik terhadap metode keilmuan
a. metode keilmuan membatasi tentang apa yang dapat diketahui manusia, yang berkisar hanya pada benda benda yang dapat dipelajari dengan alat.
b. Metode keilmuan memperkenalkan tafsira yang banyak terhadap suatu benda atau kejadian
c. Metode keilmuan menggambarkan hakikat mekanitis, bagaimana benda benda berhubungan satu sama lain.
d. Metode keilmuan meskipun sangat tepat, tidaklah berarti, merupakan suatu keharusan, universal maupun tanpa syarat tertentu. Pengetahuan harus terus menerus berubah.

C. Struktur I1mu
Ilmu merupakan salah satu cara usaha manusia memperadab dirinya. Dengan kesimpulan bahwa mengetahui kebenaran adalah tujuan utama dari manusia, maka perkembangan ilmu pada waktu lampau dan sekarang merupakan jawaban dari rasa kenginan manusia untuk mengetahui kebenaran. Ilmu dapat dianggap sebagai system yang menghasilkan kebenaran. Komponen utama dari system ilmu adalah:
1. Perumusan masalah, dalam penelaahan ilmu yang paling penting adalah perumusan masalah. Jika masalah telah dirumuskan dengan baik hasil dari perumusan disebut dengan hipotesis. Hipotesis merupakan pernyataan yang dapat diuji tentang hubungan seuatu yang diselidiki yang dijabarkan secara deduktif. Dan langkah berikutnya adalah menguji hipotesis baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Pengamatan dan Deskripsi, fakta tidak ada artinya tanpa kita berimakna. Sebelum kita mulai melakukan pengamatan dan memberi uraian, harus ditentukan lebih dulu apa yang akan kita amati dan bagaimana hubungan antara fakta. tersebut dengan hipotesis. Ilmu membenarkan rencana struktur keilmuan, namun dasar penelaahan harus dilan askan secar teliti untk mendapatkan hasil yang diharapkan.
3. Tinjauan Pustaka, akan memberi jalan akan langkah mana yang harus ditempuh untuk mendekati hipotesis, bagaimana cara membuat kerangka penelitian, melakukan studi, dan mengumpulkan data. Masalah yang penting dalam melakukan tinjauan pustaka ini adalah bagaimana membuat catatan dan system indeks dari segenap informasi yang kita dapat dari membaca.
4. Penjelasan-penjelasan ini pada dasarnya menjawab pertanyaan “mengapa” yaitu meliputi 4 cara penjelasan ;
a. penjelasan deduktif¬
b. penjelasan probabilistic
c. penjelasan genesis
d. penjelasan fungsioal
5. Macam macam ramalan terdiri dari :
a. Hukum
b. Proyeksi
c. Struktur
d. Institusional
e. Masalah
f. Tahap
g. Utopia.
6. Laporan hasil penelaahan keilmuan, aspek dari system ilmu adalah menulis laporan hasil karya keilmuan.


READ More...

ILMU DALAM PERSPEKTIF (2)

D. Aturan Dalam Ilmu Ilmu Alam
Salah satu faktor yang telah membawa ilmu ilmu alam yang bentuknya seperti sekarang ini adalah aturan permainan yang digunakan dalam proses pengembanganya.
Ada tiga hal pokok dalam aturan permainan ilmu ilmu alam, yaitu :
1. Pengamatan berulang.
Gejala alam yang lazim dibahas dalam ilmu ilmu alam adalah bahwa pengamatan gejala alam itu dapat diulangi orang lain atau bersifat tiruan, karena apabila ada gejal alam baru akan terdaftar dalam perbendaharaan ilmu ilmu alam setelah melalui ujian berulang kali sehingga tidak diragukan lagi kebenaranya. Karena pada kenyataanya banyak sekali yang pernah menemukan gejala alam yang baru akan tetapi disangkal oleh orang lain yang lebih sering melakukan pengamatan (ekperimen).

2. Jalinan antara teori dengan pengamatan
Gejala alam itu tidak berdiri sendirian tetapi saling berkaitan dalam suatu pola sebab akibat yang dapat dipahami dengan panalaran yang serasi dari aturan sebab akibat itu disebut hukum alam. Teori dalam ilmu alam harus memiliki syarat yaitu : harus bertumpu pada gejala alam yang syah dan bebas dari konflik penalaran. Untuk memudahkanya perlu diadakan ujian kualitatif dan kuantitatif.

3. Kemampuan meramalkan gejala alam yang lain
Ilmu harus sanggup mengumpulkan informasi dan merangkainya, apabila kita sudah mengumpulkan gejala gejala alam dan menyusunya dalam pola sebab akibat yang serasi berarti kita sudah memahami apa yang terjadi di alam ini. Lebih dari jika pola susunan rangkaian gejala alam yang menarik. Hal ini dapat dijadikan pedoman untuk meramalkan gejala alam yang lain. Tanpa pedoman untuk merumuskan suatu gejala alam ke dalam suatu i1mu alam. Maka ilmu ilmu alam akan menjadi ilmu yang tawar.

E. Beberapa Perbedaan Ilmu Ilmu Alam dan Ilmu Ilmu Social
Dibandingkan dengan ilmu ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-i1mu social agak tertinggal, bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa ilmu ilmu social takkan pernah jadi i1mu dalam artian yang sepenuhnya, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa secara lambat laun ilmu ilmu social akan berkembang, meskipun tidak seperti yang dicapai ilmu alam. Ilmu ilmu social cenderung mempelajari tingkah laku manusia. Dan ini sangat sulit untuk menerangkan, meramalkan dan mengontrol gejala gejala social dikarenakan ada beberapa asas yang melandasinya yaitu ;
a. Objek penelaahan yang kompleks
b. Kesukaan dalam pengamatan
c. Objek penelaahan yang tak terulang.
Bagaimana hubungan antara ahli dan objek penelaahan social ? Hubungan antara ahli dan objek penelaahan social adalah ahli social mempelajari fakta mengenai kondisi kondisi yang terdapat dalam suatu masyarakat dan harus mampu mengatasi berbagai rintangan untuk kemjuan yang berarti dalam menerangkan, meramalkan, dan mengontrol kelakuan manusia dalam masyarakat. Ahli i1mu alam mempelajari fakta dimana dia memusatkan perhatianya pada keadaanya yang terdapat pada alam.

F. Beberapa Konsep dalam I1mu
1. Klasifikasi
Konsep klasifikasi adalah suatu konsep yang meletakkan objek yang sedang ditelaah dalam suatu kelas tertentu semua konsep taksonomi dalam botani dan zoology dengan bermacam spesies, famili, genus dan sebagainva merupakan konsep klasifikasi. Kita akan menyatakan suatu objek dan hasil penelaahan dari yang terendah kepada yang tertinggi berdasar hasil dari penelitian setelah ditempatkan pada tempat tertentu dalam satu kelas.

2. Perbandingan
Konsep ini disebut juga komparatif atau perbandingan antara konsep klasifikasi dengan konsep kuantitatif. Seringakali terjadi sebelum bidang keilmuan mempergunakan konsep kuantitatif bidang keilmuan tersebut telah mengembangkan konsep perbandingan yang lebih efektif dibandingkan dengan konsep klasifikasi yang lebih besar. Konsep ini juga biasa dijadikan dasar untuk sebuah konsep kuantitatif.
3. Kuantitatif
Konsep kuantliatif mempunyai pasangan yang berhubungan dengan konsep komparatif, dimana dalam perkembangan sebuah bidang keilmuan biasanya berfungsi sebagai langkah pertama terhadap kuantitatif. Contoh dalam konsep perbandingan tentang 'berat', 'kurang berat ' atau sama berat ini dengan mudah membawa kita pada konsep berat yang dapat diukur dan diekspresikan dalam bilangan. Dan ini biasa dilihat dari hasil pengukuran yang ada dalam konsep kuantitatif.

4. Peluang
Berdasar teori teori keilmuan suatu kejadian tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Suatu saat teori ini benar karena berdasar penelitian dan pada saat yang lain kadangkala berubah setelah diteliti kembali. Kita tahu bahwa pernyataan tentang suatu fakta yang didapat dari suatu pengamatan tak pernah pasti secara mutlak karena mungkin kita melakukan kesalahan dalam pengamatan.

G. Pengukuran
Kegiatan dari seorang ilmuwan adalah melakukan. pengukuran. Tanpa pengukuran maka takkan terjadi kemajuan dalam ilmu modern. Kemajuan ilmu berhubungan erat sekali dengan ketelitian alat pengukuran. Konsep pengukuran yang dibahas disini adalah tentang klasifikasi.

Klasifikasi
Syarat yang harus dipenuhi dari klasifikasi adalah :
1. Semua harus tercakup, artinya semua harus mampu untuk mengklasifikasikan tiap-¬tiap hari kedalam lebih satu kelas atau tidak ada yang terlewat.
2. Saling menidakkan, bahwa tak ada satu haripun yang dapat dimasukkan dalam satu, sebab kalau tidak maka kekacauan yang mungkin timbul akan membuat konsep tidak berguna.
Contoh dari klasifikasi tentang minat psikologis seseorang seseorang terhadap bidang keilmuan. Ditinjau dari segi klasifikasi maka manusia berdasarkan minatnya dibagi dalam kelas-kelas tertentu umpamanya : (1) sangat menyukai semua ilmu, (2) tidak menyukai semua ilmu, (3) menyukai ilmu teoritis namun tidak menyukai ilmu eksperimental, x(4) menyukai ilmu eksperimental namun tidak menyukai ilmu teoritis, 90% menyukai baik ilmu teoritis maupun ilmu eksperimental. Lima kelas itu mempunyai sifat saling menidakkan namun tidak mencakup semua, untuk itu merupakan suatu latihan apabila dapat menyempurnakan kelas dan mejadikan suatu klasifikasi semuanya tercakup. Peranan pengukuran dalam bidang keilmuan menurut perkembangannya antara lain :
a. Penataan Sebagian (partial order)
Tugas utama ilmuwan adalah mencoba membandingkan berbagai objek dari golongan yang berbeda. Umpamanya jika kita harus membagi hari dalam satu tahun menjadi golongan yang berbeda seperti “hari pada bulan Mei” atau “hari pada pertengahan bulan Desember”, maka kita harus mencoba membandingkan suatu hari yang terdapat pada bulan Mei dengan suatu hari seperti hari yang terdapat pada pertengahan bulan Desember. Dalam hal ini kita tertarik pada temperature, maka kita akan mengambil hal tersebut sebagai dasar perbandingan apakah hari yang satu lebih panas dari hari yang lain. Hubungan dalam penataan sebagian terdiri dari :
1. Asimetri adalah hubungan antara dua objek yang dimana antara a dan b, dimana a lebih dari b dalam satu hal atau a lebih disukai dari b dan b tidak boleh mempunyai hubungan yang sama terhadap b.
2. Transirif adalah hubungan dari tiga obyek atau lebih dimana jika a lebih disukai dari b dan b lebih disukai dari c.
Kesukaran dalam penataan sebagian misalnya dalam menentukan pilihan berdasarkan mayoritas suara dalam sebuah orgaisasi dan penataan anggota lebih dari satu kriteria.

b. Penataan Sederhana ( Simple Order)
Penataan sederhana adalah penataan diantara dua golongan tidak boleh berada dalam satu tingkat yang sama, maka penggolongan kita akan meruoakan sebuah garis tanpa cabang. Ciri-ciri dari penataan sederhana adalah :
1. Asimetri
2. Transitif
3. dua golongan yang berbeda yang manapun.

c. Skala Bilangan ( Numerical order )
Konsep pengukuran dalam pikiran kita mempunyai hubungan yang erat dengan konsep bilangan. Skala bilangan merupakan bilangan nyata yang diterapkan pada obyek yang sedang ditelaah. Kebanyakan bilangan kita membuat penataan sederhana dahulu sebelum menerapkan bilangan. Dua gejala akan terlihat dengan jelas hasilnya apabila :
1. Terdapat hubungan antara keduanya.
2. Adanya sebab akibat dari hubungan itu.
Pada dasarnya para ilmuwan lebih menyukai skala bilangan karena didasarkan dari rumusan teorinya. Satu teori tidak ada gunanya kecuali kalau kita menjabarkan secara deduktif. Dan proses deduktif adalah proses matematis yang memerlukan skala bilangan pengukuran sangat berperan dalam perkembangan ilmu modern karena dengan memberikan bilangan kepada obyek atau gejala dalam alam, kita mampu mendeskripsikan gejala dalam hukum bilangan.


H. Matemtika
Matematika merupakan puncak kegemilangan intelektual, karena metode matematis memberikan inspirasi kepada permikiran bidang social, ekonomi, dan memberi warna pada seni lukis, arsitektur dan musik. Ciri utama matematika ialah metode penalaran (reasoning). Penalaran dapat dilakukan baik secara induktif dan deduktif.
Bangsa Yunani berpendapat bahwa persyaratan penalaran metematis harus bersifat deduktif, karena metode inilah yang mampu menghasilkan kesimpulan yang dapat dipercaya. Kebenaran bangsa Yunani adalah bilangan dan bentuk geometris. Alasanya adalah :
1. Matematika disusun atas aksioma bilangan dan geometri yang tidak menalar tentang gaya, berat, cahaya, persenyawaan kimia atau tujuan hidup.
2. Bahwa bilangan ukuran dan bentuk merupakan stifat sifat dasar dari berbagai wujud. Jagad raya tersusun secara matematis dengan demikian gejala alam hanya dapat dipahami dalam pengertian angka.
3. bahwa matematika adalah bahasa simbolis, artinya bahasa matematika tidak mengandung sesuatu yang dalam atau rumit tetapi bahasa yang mudah dipelajari.
Penerapan matematis terhadap benda yang bergerak melahirkan sebuah doktrin kefalsafahan yang menyatakan bahwa tiap gejala alam dapat direduksikan menjadi zat dan gerak, dimana semua zat termasuk tubuh manusia semuanva terikat oleh hukum matematis yang tetap sedangkan kehendak manusia tak terbatas, dan pikiran hanyalah merupakan reaksi mekanis yang diberikan terhadap otak lewat panca indera terhadap sensai.

I. Matematika Tanpa Bilangan: Matematika Untuk I1mu ilmu Sosial.
Ilmu ilmu sosial dapat ditandai oleh kenyataan bahwa, kebanyakan dari masalah yangg dihadapi tidak mempunyai pengukuran yang mempergunakan bilangan dan pengertian ruang. Banyak masalah masalah social yang tidak dapat diselesaikan dengan matematis karena terdahulu kompleknya masalah tersebut.
Ada dua cara agar masalah social sampai model matematis dengan tidak menggunakan bilangan atau ruang, yaitu:
a. Dengan menggunakan cabang matematis yang tidak menggunakan bilangan dan ruang.
b. Memakai bilangan yang kita tetapkan secara kurang lebih begitu saja pada masalah dimana faktor bilangan itu tak terdapat.
Contoh model yang diambil dari aljabar dan geometris modern yaitu:
1. Model teori grafik yang merupakan cabang dari geometris modern, dimana ada dua model ini yaitu tentang grafik yang berarah dan grafik yang bertanda.
2. Model teori gugus yang merupakan cabang dari aljabar modern Teori ini berhubungan dengan tranformasi
3. Model jaringan komunikasi yang merupakan aplikasi dari perkalian matrik Model matrik
4. Model rangking (urutan prioritas)
Dari keempat model tersebut menggambarkan kepada kita berbagai cara di mana matematika mungkin beguna, dalam memecahkan masalah tanpa bilangan dan ruang ilmu-ilmu sosial Model model tersebut menggambarkan bagaiman aljabar dan geometri modern memberikan tehnik tehnik baru dalam bidang sosial.

J. Statistika dan Metode keilmuan
Statistika adalah merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.statistik merupakan deskripsi tentang angka angka dari aspek kuantitatif suatu. benda yang berbentuk hitungan atau pengukuran.statistik juga bias juga mencakup ukuran seperti berat atau tinggi badan atau berapa lama mereka menahan napas dalam menyelam. Lebih lanjut statistic juga mengemukakan nilai yang merupakan hasil pengolahan dari atau pengukuran yang, telah dikumpulkan.
Bidang keilmuan statistic merupakan metode untuk memperoleh dan menganalisa data dalam mengambil suatu kesimpulan berdasar data tersebut. Ditinjau dari segi keilmuan statistic merupakan bagian dari metode keilmuan yang dipergunakan untuk mendeskripsikan gejala dalam bentuk angka-angka baik melalui hitungan maupun pengukuran. Tujuan dan pengumpulan data pada statistic adalah:
1. Kegiatan praktis.kegiatan yang dilakukan para manager untuk memilih alternative dan konsekuensinya dalam memilih alternative itu.
2. Kegiatan kelimuan, merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan diterapkan dalam mengambil keputusan yang, konsekuensinya belum diketahui.

Statistika dan Tahap tahap metode keilmuan
Statistika bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai obyek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan.tahap tahap metode keilmuan sudah dibahas pada bahasan sebelumnya. Peranan Statistika dalam tahap-tahap metode keilmuan :
1. Statistika sangat penting pada tahap observasi dan pengujian kebenaran serta sampai batas tertentu penting dalam merumuskan hipotesis.
2. Statistika berguna pada tahap observasi karena dapat menyarankan mengenai apa yang harus diobservasi untuk menarik manfaat yang maksimal serta bagaimana cara. menafsirkan hasil observasi.
3. Statistika dapat menolong kita mengklasifikasikan mengikhtiarkan dan menyajikan hasil observasi dalam bentuk yang dapat dipahami dan mudah mengembangkan hipotesis.

Penerapan Satatistika dapat digunakan dalam niaga dalam mengambil keputusan yang
tidak tentu, dalam penelitian pasar, penelitian produksi, kebijakan penanaman modal, control kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan industri ramalan ekonomi auditing, pemilihan resiko, dan lmu ilmu alam.

K. Komunikasi Pemikiran keilmuan
Matematika dalam keilmuan memiliki peranan yang sangat penting. Karena matematika akan melayani berbagai ilmu. Oleh karena itu. matematika memainkan dua peranan, yaitu:
1. Sebagai raja bahwa matematika merupakan bentuk logika paling tinggi yang pernah diciptakan oleh pemikiran manusia. Logika ini dilukiskan dalam bentuk system sibulis dari kegiatan pemikiran serta struktur yang tertur dari teoi bilangan dan ruang.
2. Sebagai pelayan bahwa matematika menyediakan bagai ilmu-ilmu yang lainya, bukan saja system logikanya tetapi juga model matematika dari berbagai kegiatan keilmuan. Model ini menyusun sebuah isomorfisme antara matematika dengan unsur dalam bidang dimana matematika itu diterapkan.
Matematika memegang peranan yang penting dalam sifat sifat sebagai berikut :
1. Matematika berhubungan dengan dalil dan dapat diuji kebenarannya
2. Matematika tidak tergantun kepada perubahan ruang dan waktu
3. Matematika bersifat eksak dalam semua yang dikerjakannya meskipun dia mempergunakan data yang tidak eksak
4. Matematika dalah logika deduktif yang mengubah pengalaman indera menjadi bentuk bentuk yang deskriminatif kemudian bentuk ini menjadi abstraksi dan kemudian berubah menjadi generalisasi.


Peranan Matematika Dalam keilmuan
Untuk bisa mengetahui dan Ilmuwan bisa mencapai pengetahuan yang sama lewat pengalaman indera dan serangkaian penalaran. Di bawah ini beberapa peranan matematika dalam pemikiran keilmuan yaitu:
• Matematika dapat memilih kaidah kaidah yang dimilikinya dan mempergunakan kumpulan tersebut untuk membangun sebuah model dari gejala keilmuan yang sedang kita amati.
• Membuat rumus rumus.
• Membuat hukum hukum dasar dengan mempergunakan lambing.
• Menguji kebenaran kebenaran serangkaian pernyataan atau teori
Unsur unsur komunikasi keilmuan mengenal lambing dan tanda. Lambing tidak memberikan bukti tentang adanva sesuatu tersebut. Lambang dapat memungkinkan tumbuhnya pemikiran dan komunikasi pemikiran tersebut apabila lambing memiliki objek. Lambing berbentuk kata kata. yang memiliki arti tunggal jadi lambing. Tanda adalah bukti bukti tentang adanya, sesuatu, seperti adanya kilat adalah tanda akan adanya petir. Tanda tanda tidak memungkinkan timbulnya kornunikasi tanda akan memiliki arti kalau ada yang memiliki.
Tujuan komunikasi kelimuan untuk mendapatkan intelektual dan bukan estrisik. Tujuan intelektual adalah satu satunya tujuan yang diinginkan dan ini untuk menghindari kebingungan. Pemakaian logika dengan mennggunakan simbolis akan memperjelas suatu pernyataan secara keseluruhan dinyatakan dengan huruf Pemakaian logika sebagai symbol dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Konsep tentang pengingkaran yaitu kontradiksi
2. Konsep kedua tentang penghubung
3. Konsep ketiga dispungsi atau gabungan dua persyaratan dengan menggunakan kata “atau”
4. Konsep keempat implikasi atau persyaratan
5. Konsep kelima ekuivalen

L. Fungsi Bahasa Matematika Dan Logika Untuk Ketahanan Indonesia dalam
Abad 20 Di Jalan Raya Bangsa Bangsa
Dalam menghadap banjir kebudayaan barat ke Indonesia kita harus menyikapi dengan sikap ilmiah. Sikap ilmiah dengan membandingkan dengan kebudayaan kita dengan sendiri _dengan dianalisis proses saling berpengaruh kebudayaan dan konsekuensi dari pengaruh tersebut. Untuk itu perlu adanya solusi sebagai jawaban untuk menghadapi tantangan itu, menggunakan anaisis sebagai berikut :
1. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa adalah menjelmakan pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan, kemudian penjelmaan tersebut menjadi landasan untuk suatu perbuatan. Perbuatan ini menyebabkan terjadinya hasil dan akhirnya hasil ini dinilai.

2. Fungsi Matematika
Ilmu pengetahuan dan ilmu ilmu sosial mempergunakan matemattika. Fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Semua pengetahuan dijelaskan dengan rnatematika dan dengan menggunakan bahasa yang deskriptif, proporsional pada seluruh lapisan pendidikan. Matematika bahasa dan logika merupakan alat utama dan alat fundamental untuk menyusun, dan mendisplinir pernikiran sehingga pemikiran yang sifat yang jelas, tepat, singkat dan teratur.

M. Hubungan Etika Dengan Ilmu
Faham pragmatis bahwa tujuan ilmu untuk kemajuan dalam bidang teknik, ekonomi, kekayaan dan yang lebih mulia lagi adalah untuk menemukan harta ciptaan Tuhan. Hal ini bisa tercapai apabila suatu ilmu diterapkan. Ilmu mengabdi kepada masyarakat sehingga ia menjadi sarana kemampuan untuk mengejar kebenaran. Dan kebenaran itu merupakan inti etika ilmu, tetapi jangan lupa bahwa kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan ilmu.
Van Peursen menyatakan bahwa pada sifat ilmu akan selesai kegiatan beroperasi dalam ruang gerak dan ruang karena berisi aneka ketegangan dan gerak yang penuh dengan keresahan. Martin Heidegger menyatakan bahwa manusia mempunyai logos bertalian dengan kata kerja leguin yang artinya macam macam, berbicara, membaca, menyimak, menyimpulkan makna, menyimpan dalam batin, berhenti untuk ¬menyadari. Kaitan logos adalah ethos. Kata ethos berarti sikap hidup yang menyadari sikap yang mengutamakan tutup mulut untuk berusaha mendengar dengan mengorbankan berbicara lebih.
Kebenaran keilmuan tampak apablia ada jawaban yang netral, tak berwarna dapat melunturkan pengertian kebenaran. Pada hakekatnya ilmu selalu berlandaskan kebenaran dan etika. Kebenaran ilmu tidak mutlak tidak seperti kebenaran yang hakiki. Firasat dalam ilmu juga memainkan peranan yang berarti dalam ilmu dan sejarah perkembangan.

N. Ilmu Dan Humaniora
Elmood mendeskripsikan humaniora sebagai perangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya, Humaniora berlandaskan pada prilaku moral manusia terhadap linkungannya yang sesuai nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Ilmu adalah semua pengetahuan yang terhimpun lewat metode metode keilmuan.
Pengetahuan diperoleh dengan melalui hasil rebtetan daur daur penyimpul rapatan (induksi) penyimpul keihlasan (deduksi 0 dan pengalihan (verifikasi/validasi ) yang terus menerus tak ujung usai (Kemeng : 1959 )
Dalam memperoleh ilmu dilandasi oleh budiluhur antara lain kerja keras, ketabahan, ketekunan dan kesetiaan. Hal ini untuk menghindari sikap sombong dan sok tahu atas seaganya. Ilmu bukan hanya untuk memperoleh kebenaran saja nilai nilai juga harus dijunjung tinggi dan juga menghasilkan keindahan.



BAB III
KESIMPULAN


Pengetahuan merupakan produk berpikir manusia dari awal sampai akhir ditinjau dari cara berpikir manusia maka pola untuk memperoleh pengetahuan melalui; rasionalisme, empirisme dan metode keilmuan. Metode ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu seorang ilmuan harus dapat memilih metode mana yang akan digunakan untuk menganalisa atau menelaah.

Proses untuk mendapatkan ilmu bias dilakukan secara induktif, deduktif dan pengukur. Masalah yang dibahas bisa mengenai masalah yang sudah diketahui sebelumnya atau dengan menelaah masalah yang belum pernah diteliti. Untuk menelaah kebenaran suatu masalah tentu kita harus tahu latar belakang masalah, rumusan masalahnya, hipotesis, kaitan antara gejala-gejala yang diteliti dan juga pengujian kebenaran yang merupakan verifikasi.

Dalam pengujian kebenaran kita dapat menggunakan matematika dan statistika. Matematika dapat dipergunakan untuk mengkomunikasikan hokum keilmuan dan hipotesis. Statistika juga dapat digunakan pada tahap observasi dan pengujian kebenaran, sehingga dapat mengelompokkan, mengihtiarkan dan menyajikan data yang akurat.



DAFTAR PUSTAKA


Suryasumantri Jujun S, 1999, llmu Dalam Perspeklif, Jakarta: Yayasan obor Indonesia

Mantra Ida Bagoes 2004, Filsafat Penelitian & Metode penelltian Sosial, Yogjakarta. Pustaka Pelajar.


READ More...

15 Januari 2009

AKSIOLOGI ILMU

A. HAKEKAT ILMU
Dalam kehidupan sehari-hari sejak jaman purbakala manusia selalu berusaha mencari hakekat kebenaran mengenai hal-hal yang bersifat hakiki, seperti masalah Tuhan, kematian, hidup sesudah mati, cinta dan lain-lain. Manusia berusaha mengerti dan menaklukan alam semesta yang penuh dengan misteri. Sampai jaman yang diwarnai dengan kecanggihan teknologi saat ini, perasaan untuk mengerti dan memahami rahasia-rahasia alam semesta termasuk rahasia mengenai dirinya sendiri.
Salah satu hakekat dari manusia adalah berpikir karena melalui proses berpikirlah dia menjadi manusia, berpikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan.
Pada masa zaman pertengahan, manusia belum menunjukkan minat terhadap studi sistematis mengenai dunia fisik, kondisi tersebut banyak dipengaruhi oleh pendapat filsafat Yunani yang lebih mengutamakan “Yang umum” daripada “Yang khusus”. Pengetahuan yang umum mengacu pada hakekat dan esensi hal-hal yang konkrit, sedang yang khusus membedakan benda satu dengan yang lain.
Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obor dan semen peradaban di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peranan dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya, meskipun kelihatannya tampak betapa banyak dan beraneka ragamnya buah pemikiran itu namun pada hakekatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok yakni : Apakah yang ingin kita ketahui? Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? Dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?
Pertanyaan itu kelihatannya sederhana namun mencakup permasalahan yang sangat asasi. Berbagai buah pemikiran yang besar sebenarnya merupakan serangkaian jawaban yang diberikan atas ketiga pertanyaan tadi. Pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah kebudayaan manusia dapat dicirikan dan dibedakan dari cara mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Untuk bisa menghargai ilmu sebagai mana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakekat ilmu itu sebenarnya. Seperti kata pepatah perancis “mengerti berarti memaafkan segalanya,” maka pengertian yang mendalam terhadap hakekat ilmu bukan saja akan mengikatkan apresiasi kita terhadap ilmu namun juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangannya.

1. Ilmu dan Falsafah
Istilah falsafah mengandung banyak pengertian, namun untuk tujuan pembahasan kita, falsafah diartikan sebagai suatu cara berfikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berfikir yang mengupas sesuatu sedalam dalamnya. Falsafah menanyakan segala sesuatu dari kegiatan berfikir kita dari awal sampai akhir seperti dinyatakan oleh Socrates, bahwa tugas falsafah yang sebenarnya bukanlah menjawab pertanyaan kita namun mempersoalkan jawaban yang diberikan. Kemajuan manusia dalam berfalsafah bukan saja diukur dari jawaban yang diberikan naum juga dari pertanyaan yang diajukannya.
Lalu apakah hubungan falsafah dengan ilmu? Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Ciri-ciri keilmuan ini didasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap ketiga pertanyaan pokok seperti telah disebutkan terdahulu.

2. Dasar Ontologi Ilmu
Ontologi ialah hakikat apa yang dikaji atau ilmunya itu sendiri, seorang filosof yang bernama Democritus menerangkan prinsip-prinsip materialisme mengatakan: Hanya berdasarkan kebiasaan saja maka manis itu manis, panas itu panas, dingin itu dingin, warna itu warna. Artinya objek penginderaan sering kita anggap nyata, padahal tidak demikian. Hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata. Istilah “manis, panas dan dingin” itu hanyalah merupakan terminologi yang kita berikan kepada gejala yang ditangkap dengan panca indera.
Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam semesta ini seperti adanya, oleh karena itu manusia dalam menggali ilmu tidak dapat terlepas dari gejala-gejala yang berada didalamnya. Dan sifat ilmu pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam mememecahkan masalah tidak perlu memiliki kemutlakan seperti agama yang memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dari kehidupan ini. Sekalipun demikian sampai tahap tertentu ilmu perlu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi. Sebagai contoh, bagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai penegertianpun akan muncul pula contoh: Siapakah manusia iu ? jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi, sedang ilmu politik akan menjawab bahwa manusia ialah political animal dan dunia pendidikan akan mengatakan manusia ialah homo educandum.
Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris. Objek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Dalam batas-batas tersebut maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan, binatang, tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia itu sendiri. Ilmu mempelajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan objek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu ilmu pengetahuan empiris, dimana obyek-obyek yang berbeda diluar jangkauan manusia tidak termasuk kedalam bidang penelaahan keilmuan tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi terhadap dunia empiris.
Secara lebih terinci ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai obyek empiris. Asumsi pertama menganggap obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Asumsi yang kedua adalah anggapan bahwa suatu bentuk tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Determinisme merupakan asumsi ilmu yang ketiga. Kita menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urut-urutan kejadian yang sama.

3. Dasar Epistemologi Ilmu
Yang dimaksud dengan epistimologi ialah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan pengetahuan ialah :
1. Batasan kajian ilmu : secara ontologis ilmu membatasi pada pengkajian objek yang berada dalam lingkup manusia dan tidak dapat mengkaji daerah yang bersifat transcendental.
2. Cara menyusun pengetahuan: untuk mendapatkan pengetahuan menjadi ilmu diperlukan cara untuk menyusunnya yaitu dengan cara menggunakan metode ilmiah.
3. Diperlukan landasan yang sesuai dengan ontologis dan aksiologis ilmu itu sendiri.Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode keilmuan. Karena ilmu merupakan kebahagiaan dari pengetahuan, yakni pengetahuan yang memiliki sifat-sifat tertentu, maka ilmu juga dapat disebut pengetahuan keilmuan. Untuk tujuan inilah, agar tidak terjadi kekacauan antara pengertian “ilmu” ( science ) dan “pengetahuan” ( knowledge ), maka kita mempergunakan istilah “ilmu” untuk “ilmu pengetahuan”.

4. Metode Keilmuan
Ditinjau dari segi perkembangannya, seperti juga semua unsur kebudayaan manusia, ilmu merupakan gabungan dari cara-cara menusia sebelumnya dalam mencari pengetahuan. Pada dasarnya ditinjau dari sejarah berfikir manusia, terdapat dua pola dalam memperoleh pengetahuan. Yang pertama adalah berpikir secara rasional, dimana berdasarkan paham rasionalisme ini ide tentang kebenaran sebenarnya sudah ada. Yang kedua muncul suatu pola berpikir lain, yang merupakan cara yang sama sekali berlawanan dengan rasionalisme, yang dikenal dengan nama empirisme.
Pendekatan rasional dan empiris membentuk dua kutub yang bertentangan, yang masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka timbul gagasan untuk menggabungkan kedua pendekatan ini untuk menyusun metode yang lebih dapat diandalkan dalam menemukan pengetahuan yang benar, gabungan keduanya disebut metode keilmuan.

5. Dasar Axiologi Ilmu
Apakah kegunaan ilmu itu bagi kita? Ilmu itu telah banyak mengubah dunia dalam pemberantasan penyakit, kelaparan, kemiskinan, kekeringan dan lain-lain. Namun apakah hal itu selalu demikian: ilmu selalu merupakan berkat dan penyelamat bagi manusia? Memang dengan mempelajari atom kita bisa memanfaatkan ujud tersebut sebagai sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi dipihak lain hal ini bisa juga berakibat sebaliknya yakni malapetaka. Usaha memerangi kuman yang membunuh manusia sekaligus menghasilkan senjata kuman yang dipakai sebagai alat untuk membunuh sesama manusia pula.


B. PERBEDAAN ANTARA ILMU-ILMU ALAM DAN ILMU-ILMU SOSIAL
( SUATU PEMBAHASAN )

Selama bertahun-tahun, ilmu-ilmu sosial telah menjadi arena bagi sejumlah kritik: kritik yang dikemukakan adalah bermacam-macam, mulai dari keraguan tentang kegiatan ahli ilmu-ilmu sosial karena ”ilmu-ilmu sosial adalah tidak mungkin” sampai kepada rasa ngeri terhadap kegiatan ahli ilmu-ilmu sosial, terlalu banyak pengetahuan sosial akan membahayakan kebebasan manusia, argumentasi dari mereka ini berpendapat bahwa gejala sosial adalah terlalu rumit untuk diselidiki secara keilmuan, jika memang ada paling jauh hanya berupa ”semata-mata kemungkinan probabilistik”. Orang menganggap kegagalan ahli ilmu-ilmu sosial menerapkan hukum yang non probabilistik adalah disebabkan oleh rumitnya gejala yang harus dihadapinya, kritik ini sukar untuk dinilai karena kritikus yang melontarkannya mempunyai pendapat yang berbeda-beda.
Kritikus menyerang rumitnya ” gejala sosial “ sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa ilmu sosial adalah tidak mungkin (probality) disebabkan rumitnya semua gejala. Prilaku manusia terlalu komplek ”untuk ditangkap” atau diterangkan oleh ilmu, namun kritikan ini juga termasuk di dalamnya bidang-bidang yang bukan sosial, seperti permainan cahaya dan bayang-bayang ditengah padang rumput pada suatu petang yang redup, mengalirnya secara perlahan suatu anak sungai – pada kenyataanya mencakup semua gejala fisika dan biologi. Ternyata argumen mengenai ketidak mungkinan ilmu sosial itu ditinjau dari segi deskripsi yang kasar, keunikan obyek, abstraksi, pemutarbalikan penelaahan keilmuan dan ketidakmampuan uantuk menangkap kenyataan, semuanya didasarkan pada anggapan salah tentang hakekat ilmu.

Kesalahan tentang Hakekat Ilmu

Kesalahan tentang hakekat ilmu dimulai dengan salah pengertian mengenai apa yang dinamakan ilmu dan apa yang dikerjakannya, kesalahan dalam menjawab pertanyaan ini demikian asasi, dimana terdapat anggapan bahwa fungsi ilmu adalah mereproduksikan kenyataan oleh sebab itu maka ilmu yang tidak berhasil melakukannya adalah ilmu yang gagal. Pada hakekatnya kesalahan itu terletak pada kekacauan antara sebuah deskripsi dengan apa yang dideskripsikan. Albert Einstein pernah mengemukakan bahwa bukanlah fungsi ilmu untuk ”memberikan rasa lezat semangkuk sup”. Jika kita mengkaji dalam pernyataan keilmuan, maka deskripsi ilmu mendudukkan kita pada sebuah posisi yang memungkinkan kita mampu untuk mengecap rasa sup.
Suatu kekacauan lain adalah tentang sifat dan fungsi dari ilmu, dimana terdapat anggapan bahwa fungsi ilmu bukan saja untuk memproduksikan alam secara harfiah, namun juga bahwa pernyataan keilmuan harus membawa sensasi, reaksi atau tanggap terhadap rangsangan yang betul-betul sama, atau hampir sama, atau dengan perkataan lain memberikan pengalaman yang sama.
Jadi dasar tuduhan bahwa ”kenyataan adalah terlalu rumit untuk ditangkap” adalah terletak pada kekacauan tentang pernyataan pernyataan keilmuan dalam hubungannya dengan apa yang dideskripsikan dalam dunia sebenarnya, oleh sebab itu maka tuduhan ini tidak dapat diterima, dan merupakan suatu kesalahan yang asasi yang disebabkan oleh salah pengertian tentang hakekat dan fungsi pernyataan keilmuan.

Tuduhan Terhadap Ilmu-Ilmu Sosial

Tidak semua argumentasi tentang kerumitan ” gejala sosial ” yang menyebabkan ketidak mungkinan ilmu-ilmu sosial (atau suatu ilmu sosial yang metodologinya adalah sama dengan ilmu-ilmu-ilmu yang lainnya) berdasarkan anggapan diatas. Rangkaian argumentasi yang lain didasarkan pada tuduhan bahwa metode keilmuan tidak mampu untuk menangkap ”keunikan” gejala sosial dan manusiawi. Karena penelaah-penelaah sosial tertarik kepada keunikan tiap-tiap kejadian sosial, padahal metode keilmuan hanya mampu mensistematikan berdasarkan generalisasi, maka keadaan ini menyebabkan harus diterapkannya metode yang lain dalam ilmu-ilmu sosial. Dalam pengertian ini setiap gejala fisik ” sama uniknya ” seperti setiap gejala atau bentuk sosial, selaras dengan ini maka argumentasi berdasarkan pengertian keunikan ini tidak mendukung sama sekali suatu pandangan bahwa harus terdapat perceraian yang radikal antara metodologi ilmu-ilmu sosial dan non sosial.

C. PERKEMBANGAN ILMU

Dalam sejarah perkembangan manusia, manusia purba telah menemukan beberapa hubungan yang bersifat empiris yang memungkinkan untuk mengerti dunia, diantaranya :
1. Bangsa Mesir, dimana banjir Sungai Nil ikut menyebabkan berkembangnya sistem almanak, geometri dan Bangsa kegiatan survey.
2. Bangsa Babylonia dan Hindu.
3. Bangsa Yunani yang menyumbangkan perkembangan ilmu dan astronomi, kedokteran dan sistem klasifikasi Aristoteles, juga silogisme yang menjadi dasar penjabaran secara deduktif pengalaman-pengalaman manusia. Bangsa Yunani dianggap sebagai perintis di dalam mendekati perkembangan ilmu secara sistematis, walaupun terlepas dari tendensi mereka untuk menitikberatkan teori dan sering melupakan pengalaman empiris dan kurang memperhatikan percobaan sebagai sumber bukti-bukti keilmuan.

Metode Induktif

Pelopor cara berfikir metode Induktif dimulai oleh Francis bacon, yang mana terdapat tendensi diantara aparat ahli filsafat untuk mula-mula setuju pada suatu kesimpulan dan baru dimulai usaha untuk mengumpulkan berbagai fakta yang mendukung kesimpulan. Bacon merasa yakin bahwa logika tidaklah cukup untuk menemukan kebenaran, karena “kepelikan alam jauh lebih besar daripada kepelikan argumen”. Akan tetapi metode bacon ini dianggap memboroskan waktu dan tidak efektif, karena jika pemikiran deduktif yang penggunaannya secara berlebihan menyebabkan dunia keilmuan mengalami kemacetan.

Pendekatan Induktif-Deduktif Modern

Pendekatan InduktifiDeduktif modern dipelopori oleh Charles Darwin yang menggabungkan deduksi Aristoteles dengan metode, dimana artinya seorang mempergunakan metode induksi dalam menghubungkan antara pengamatan dengan hipotesis, kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokan dan implikasi.

PERKEMBANGAN ILMU

Animisme

Perkembangan kehidupan masa animisme dapat dilihat dari gejala-gejala yang ditemui dalam menghadapi masalah-masalah yang ditimbulkan, seperti manusia primitif ketika mendengar petir dan melihat kilat diikuti dengan hujan dan banjir, mereka merenung bingung, kapan dan apa yang sebenarnya terjadi. Kajian Antropologi dan sejarah menunjukkan bahwa manusia pertama kali menerangkan gejala-gejala seperti itu pada perbuatan dewa-dewa hantu, setan dan berbagai makhluk halus. Mitologi kuno penuh dengan bermacam dewa dan dewi yang memainkan peranan yang penting dalam kehidupan manusia primitif, seperti kepercayaan bangsa Indian yang menghubungkan sakit, kelaparan dan berbagai bencana dengan makhluk-makhluk halus yang sedang perang.

Ilmu Empiris

Setelah mengikuti kepercayaan animisme dalam tata kehidupan masyarakat primitif maka secara perlahan manusia menyadari bahwa gejala alam dapat diterangkan oleh sebab musabab dari alam, dan ini merupakan suatu langkah penting yang menandai permulaan ilmu sebagai suatu pendekatan sistematis dalam pemecahan masalah. Perkembangan ini dibagi kedalam dua tahap yang saling bertautan; (1) tingkat empiris, dimana ilmu terdiri dari hubungan empiris yang ditemukan dalam berbagai gejala dalam bentuk-bentuk “X menyebabkan Y” tanpa mengetahui mengapa hal ini terjadi. dan (2) tingkat penjelasan (teoritis) yang mengembangkan suatu struktur teoritis yang tidak hanya menerangkan hubungan empiris yang terpisah-pisah, namun juga mengintegrasikannya menjadi suatu pola yang berarti.

a. Pengalaman.
Pada tahap awal Ilmu dimulai dengan suatu observasi, dimana kemudian ditambahkan denga observasi-observasi berikutnya sampai suatu kesamaan atau perbedaan yang dicapai, dalam tahap permulaan ilmu harus berurusan dengan penambahan dan kritik terhadap pengalaman.
b. Klasifikasi
Merupakan prosedur yang paling dasar untuk mengubah data terpisah menjadi dasar yang fungsional, suatu prosedur yang pokok bagi semua penelitian karena hal ini merupakan cara yang sederhana dan cermat dalam memahami sejumlah besar data. Klasifikasi harus didasarkan pada suatu tujuan tertentu, kesukaran timbul karena kebanyakan obyek dan gejala mempunyai sifat serta ciri yang banyak, jadi gejala bisa diklasifikasikan dengan berbagai cara.
c. Kuantifikasi.
Tahap yang pertama dalam perkembangan ilmu adalah pengumpulan dan penjelasan pengalaman, dimana kemudian menyebabkan adanya kebutuhan untuk mengkuantifikasikan observasi tersebut, meskipun observasi kualitatif sudah memuaskan dalam tahap-tahap permulaan ilmu, namun hanya kuantifikasi yang dapat memberikan ketelitian yang diperlukan bagi klasifikasi dalam ilmu yang lebih matang.
d. Penemuan Hubungan-hubungan
Melalui berbagai klasifikasi yang berbeda-beda, sering terjadi bahwa kita melihat adanya hubungan fungsional tertentu antara aspek-aspek komponennya, banyak hubungan yang ditemukan merupakan sesuatu yang lebih dari hubungan yang didasarkan pada kenyataan bahwa gejala tersebut muncul secara bersamaan.
e. Perkiraan Kebenaran
Para Ilmuwan pada umumnya menaruh perhatian kepada hubungan yang lebih fundamental daripada hubungan yang hanya tampak pada kulitnya. Suatu peristiwa sering terjadi demikian rumitnya sehingga hubungan-hubungan yang tampak menjadi kabur, disini terlihat dua langkah fundamental dalam perkembangan ilmu : proses perkiraan kebenaran yang terus menerus dan proses pendefinisian kembali masalah ditinjau dari keberhasilan atau kegagalan perkiraan tersebut.

Ilmu Teoritis

Tingkat yang paling akhir dari ilmu adalah teoritis, dimana hubungan dan gejala yang ditemukan diterangkan dengan dasar suatu kerangka pemikiran tentang sabab musabab sebagai langkah untuk meramalkan dan menentukan cara untuk mengontrol kegiatan agar hasil yang diharapkan dapat tercapai. Kelebihan tingkat ilmu ini mudah dilihat dengan memperlihatkan keterbatasannnya, karena ilmu empiris ini tidak mudah dipergunakan karena berurusan dengan gejala yang terpisah-pisah, sehingga sukar untuk memahami tiap-tiap gejala itu.

D. AKSIOLOGI ILMU

Ilmu dan Moral

Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban menusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara cepat dan lebih mudah disamping menciptakan berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan dan komunikasi. Namun dalam kenyataannya apakah ilmu selalu merupakan berkah, terbebas dari kutuk, yang membawa malapetaka dan kesengsaraan?
Sejak dalam tahap pertama pertunbuhan ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk mengusai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan mengusai mereka. Untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan ? Kearah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuwan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya.Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari”, maka timbulah interaksi antara ilmu dengan moral yang berkonotasi metafisik. Pengadilan inkuisisi Galileo ini selama kurang lebih dua setengah abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir Eropa, yang pada dasarnya mencerminkan pertarungan antara ilmu yang ingin terbatas dari nilai-nilai diluar bidang keilmuan dan ajaran –ajaran diluar bidang keilmuan yang ingin menjadikan nilai-nilai penafsiran metafisik keilmuan.Masalah moral tidak bisa dilepaskan dengan tekat menusia untuk menemukan kebenaran. Sejarah kemanusian dihiasi dengan semangat para martir rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang meraka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan Sokrates dipaksa memimun racun dan John Huss dibakar.

Tanggung Jawab Sosial Ilmuan

Seorang ilmuan mempunyai tangung jawab sosial yang terpikul di bahunya. Funginya selaku ilmuan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat di manfaatkan oleh masyarakat.
Pikiran manusia bukan saja dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran namun sekaligus juga dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan hal-hal yang benar. Seorang manusia biasa berdalih untuk menutup-nutupi kesalahannya baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Apalagi bila didukung oleh sarana seperti kakuasaan. Tidak sedikit para ilmuan yang terbius oleh Hitler dengan persepsi Jerman sebagai bangsa Aria, dan kaum Yahudi sebagai pengotor ras Aria.Bagaimana sikap seorang ilmuan menghadapi cara berpikir yang keliru ini? Seorang ilmuan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti, bukan saja jalan pikirannya mengalir melalui pola-pola yang teratur namun juga segenap materi yang menjadi bahan pemikirannya dikaji dengan teliti. Seorang ilmuan tidak menolak atau menerima sesuatu secara begitu saja tanpa suatu pemikiran yang cermat, disinilah kelebihan seorang ilmuan dibandingkan dengan cara berpikir seorang awam.

Nuklir dan Pilihan Moral

Pada tanggal 2 Agustus 1939 Albert Einstein menulis surat kepada Presiden Emerika Serikat Franklin. D. Roosevelt yang memuat rekomendasi mengenai serangkaian kegiatan yang kemudian mengarahkan kepada pembuatan atom. Apakah yang mendorong Einstein merasa berkewajiban untuk memberikan sarana kepada Presisen Roosevelt untuk membikin bom atom? Apakah karena dia anti-Rezim Hitler? Apakah karena dia terpanggil oleh kewajibannya selaku warga Amerika Serikat? Sekiranya waktu itu Jerman tidak memperhatikan tanda-tanda untuk membuat bom atom, apakah Einstein akan bersedia menulis surat tersebut? Apakah dengan keputusan tersebut Einstein memihak kepada Amerika Serikat selaku seorang warga yang baik? Apakah keputusan Einstein didasarkan kepada nasionalisme dan petriotisme? Jawabannya adalah tidak. Keputusan Einstein bukanlah didasarkan kepada nasionalisme dan petriotisme. Einstein seperti juga ilmuan lain yang berpihak kepada kemanusian yang besar, kemanusian ini tidak mengenal batas geografis, sistem politik atau sistem kemasyarakatan lainnya.Seorang ilmuan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsa sendiri. Sejarah telah mencatat bahwa para ilmuan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahannya menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusian.Pilihan moral ini kadang-kadang memang getir sebab tidak bersifat hitam atas putih, akibat bom atom di Hirosima dan Nagasaki masih berbekas dalam lembar sejarah kemanusian kita. Kengerian pengalaman Hirosima dan Nagasaki memperlihatkan kepada kita wajah yang lain dari pengetahuan, sehingga diperlukan landasan moral yang kukuh untuk mempergunakan ilmu pengetahuan secara konstruktif.

Revolusi Genetika

Ilmu dalam perspektif sejarah kemanusian mempunyai puncak kecemerlangan masing-masing, namun seperti kotak pandora yang terbuka, kecemerlangan itu sekaligus membawa malapetaka. Kimia merupakan kegemilangan ilmu yang pertama yang dimulai sebagai kegiatan pseudo ilmiah yang bertujuan mencari obat mujarab untuk hidup abadi dan rumus campuran kimia untuk mendapatkan emas. Setelah itu menyusul fisika yang mencapai kulminasi pada teori fisika nuklir, dan sekarang kita diambang kurun genetika dengan awal revolusi di bidang genetika.Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan dalam kedua bidang kimia dan fisika membawa manfaat yang banyak untuk kehidupan manusia, namun disamping berkah ini kemajuan ilmu sekaligus membawa kutuk yang berupa malapetaka. Perang dunia I menghadirkan bom kuman sebagai kutukan ilmu kimia dan perang Dunia II memunculkan bom atom sebagai produk fisika, kutukan apa yang mungkin dibawa oleh revousi genetika? Revolusi genetika merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan menusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai obyek penelaahan itu sendiri. Namun penelaahan-penelaahan ini dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, dan tidak membidik secara langsung manusia sebagai obyek penelaahan, artinya jika kita mengadakan penelaahan mengenai jantung manusia, maka hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan penyakit jantung. Diatas pengetahuan itu dikembangkan teknologi yang berupa alat yang memberikan kemudahan bagi kita untuk menghadapi gangguan-gangguan jantung. Dengan penelitian genetika maka masalahnya menjadi sangat lain, kita tidak lagi menelaah organ-organ manusia dalam upaya untuk menciptakan teknologi yang memberikan kemudahan bagi kita, melainkan manusia itu sendiri sekarang menjadi obyek penelaahan yang akan menghasilkan bukan lagi teknologi yang memberikan kemudahan, melainkan teknologi untuk mengubah manusia itu sendiri, apakah perubahan-perubahan yang dilakukan diatas secara moral dapat dibenarkan?Jawaban mengenai hal ini harus dikembalikan kepada kakikat ilmu itu sendiri. Ilmu berfungsi sebagai pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan kehidupannya, dan kemanusian itu sendiri bersifat otonom dan terlepas dari kajian dan pengaruh ilmiah. Menghadapi nuklir yang sudah merupakan kenyataan maka moral hanya mampu memberikan penilaian yang bersifat eksilogis, bagaimana sebaiknya kita mempergunakan nuklir untuk keluhuran martabat manusia.


E. HUBUNGAN ILMU DENGAN ETIKA DAN HUMANIORA

1. Ilmu
“Ilmu” diartikan sebagai semua pengetahuan yang terhimpun lewat metode-metode keilmuan. Tegasnya pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil tahapan siklus/daur dari Induksi (penyimpul rapatan), Deduksi (penyimpul khasan), dan Verifikasi/Validasi (penyahihan), yang terus-menerus berkelanjutan.
2. Ilmu : Piranti Etika dan Abdi Kemanusiaan
Seperti Etika maka Ilmu tak bebas dari tata nilai, Ilmu bebas nilai menggunakan pertimbangan yang didasarkan atas nilai diri yang diwakili oleh ilmu yang bersangkutan. Bebas disini berarti tak terikat secara mutlak, padahal bebas dapat mengandung 2 jenis makna Pertama, kemungkinan memilih; Keduanya, kemampuan atau hak untuk menentukan subyeknya sendiri, disini harus ada penentuan dari dalam dan bukan dari luar. Menurut Kenneth Building, ahli ekonomi pada Lembaga Ilmu Keprilakuan; Universitas Colorado, menyebutkan “Sebagian yang lumayan bersama dari keberhasilan masyarakat keilmuan dalam memajukan pengetahuan adalah berkat nilainya, yang menempatkan pengabdian yang obyektif terhadap kebenaran dijenjang yang paling luhur, dan kepadanya baik harga diri perseorangan maupun kebanggaan nasional harus ditelurkan.Kaitan ilmu terhadap nilai-nilai dapat membuat tidak terpisahkan dari etika. “Moral” dapat mengacu kepada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku, sedangkan “beretika” dapat mengacu kepada bagaimana seharusnya ia berperilaku. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. Biasanya dalam bentuk ungkapan, mutiara-kata, peribahasa dan sebagainya yang menyiratkan, tetapi tidak menyatakan dengan tegas tujuan yang baik dan didambakan yang dicapai menurut nasehat itu dan akibat-akibat yang jelek akan menimpa jika petuah itu dilanggar.
3. Humaniora
Elwood (1975) mendefinisikan: “Humaniora” adalah sebagai seperangkat sikap perilaku moral manusia terhadap sesamanya. Pandangannya mengemukakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai kedudukan amumg (unique) di dalam ekosistem, namun sekaligus juga tergantung pada ekosistem itu dan ia sendiri merupakan bagiannya. Humaniora diarahkan yang memperluas hubungannya (horisontal) “terhadap sesamanya” menjadi hubungan trisula atau bercabang tiga, yaitu a). Hubungan manusia dengan Khaliknya, b). Hubungan manusia dengan Sesamanya, dan c). Hubungan manusia dengan alam baik makhluk yang jasad-jasad hidup, maupun benda mati.
4. Kebenaran Ilmu
Kebenaran adalah suatu sifat dari kepercayaan, dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu antara suatu kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan.Kebenaran intelektual dalam ilmu bukalah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran memang merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Ilmu bukan tujuan tetapi merupakan saran, karena hasrat akan kebenaran itu berimpit dengan etika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggung jawab secara agama. Suatu teori, dan karenanya juga konsep-konsep yang terkandung di dalamnya, akan diterima sebagai “benar atau baik” dalam arti bahwa teori itu berguna dalam menyingkap tabir yang menutupi sesuatu atau beberapa cercah kecil kebenaran-kebenaran hidup yang ada dalam alam, jika ia menyiratkan pernyataan-pernyataan yang ada pada umumnya dapat diuji secara empiris.


KESIMPULAN

Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia, untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakikat ilmu itu. Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya kebenaran biasanya tidak mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya, demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkan muka dari ilmu yang tidak mau melihat kenyataan betapa ilmu telah membentuk peradaban seperti yang kita punyai sekarang ini, kemungkinan besar disebabkan juga karena mereka kurang mengenal kakikat ilmu sebenarnya. Salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan teknologi, kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan teknologi itu alpha dan omega dari segala-galanya, dan juga pandangan yang mengatakan bahwa Ilmu-Ilmu sosial takkan pernah menjadi Ilmu dalam artian sepenuhya. Dipihak lain Ilmu sosial terus berkembang meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam, rumitnya kajian tentang gejala sosial dari gejala alami membuat kajian sosial sulit untuk ditangkap atau diterangkan oleh ilmu, jika dapat itupun hanyalah sebagai probalistik (kemungkinan ). Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain disamping kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusian yang hakiki. Berdirinya pilar penyangga keilmuan ini merupakan tanggung jawab sosial seorang ilmuwan, kita tidak bisa lari daripadanya sebab hal ini merupakan bagian dari hakikat ilmu itu sendiri. Upaya manusia mendapatkan ilmu diperoleh dari pengetahuan yang didasarkan pada tiga masalah pokok yakni: apa yang ingin diketahui, bagaimanakah cara memperoleh pengetahuan, dan apakah manfaat nilai pengetahuan tersebut?. Dalam kajian epistomologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan, bahan kajian ilmu mencakup semua aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indra manusia yang terjangkau fitrah pengalaman manusia yang disebut empiris. Pengetahuan adalah suatu sub kelas dari kepercayaan yang benar, bahwa setiap hal mengenai pengetahuan merupakan hal mengenai kepercayaan yang benar tetapi tidak sebaliknya. Ilmu diartikan sebagai semua pengetahuan yang terhimpun lewat metode-metode keilmuan, pengetahuan diperoleh sebagai hasil tahapan siklus / daur dari Induksi (penyimpul rapatan), Deduksi (penyimpul khasan), dan Verifikasi / Validasi (penyahihan). Aksiologi Ilmu menyangkut bagaimana ilmu itu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, Ilmu tidak bebas nilai artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malah menimbulkan bencana. Aksiologi ilmu tanpa memegang tanggung jawab moral terhadap ilmu telah menjadikan petaka bagi umat manusia seperti perspektif Hitler tentang teori evolusi Darwin dan petaka akibat kemajuan dibidang fisika nuklir yang melahirkan bom atom pada perang dunia II. Dibalik itu semua terdapat etika yang dapat memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku, dan humaniora memperluas hubungannya antara lain: Hubungan manusia dengan khaliknya, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam.

Wassalam . . .


DAFTAR PUSTAKA

Jujun S. Suriasumantri, (1999), Ilmu Dalam Perpektif; Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Jujun S. Suriasumantri. (2005), Filasafat Ilmu; sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Tersedia: http://id.wikipedia.org. (Online). (4 Desember 2007)

READ More...